Safwanquran.com – Membahas sejarah turunnya Al Quran secara singkat selalu menghadirkan rasa takjub tersendiri. Bagaimana tidak, kitab suci yang menjadi pedoman hidup umat Islam ini tidak turun sekaligus, melainkan melalui proses panjang yang sarat hikmah. Setiap ayat yang diturunkan membawa jawaban, petunjuk, sekaligus penguat hati Rasulullah SAW dan para sahabat.
Memahami perjalanan turunnya AlQuran bukan sekadar menambah wawasan sejarah. Lebih dari itu, ia membuat kita semakin dekat dengan AlQuran, menghargai prosesnya, dan terdorong untuk lebih sering membacanya.
Pengertian Turunnya Al quran (Nuzulul Quran)
Secara istilah, turunnya Alquran disebut Nuzulul Quran, yaitu proses diturunkannya wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril AS.
Dalil tentang turunnya AlQuran dijelaskan dalam firman Allah:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.”
(QS. Al-Qadr: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa AlQuran berasal langsung dari Allah SWT, bukan karangan manusia. Para ulama menjelaskan bahwa proses turunnya AlQuran terjadi dalam dua tahap besar, yang menjadi bagian penting dalam sejarah turunnya AlQuran secara singkat.
Tahapan Turunnya Kitab Suci Alquran
Turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW tidak terjadi dalam satu waktu sekaligus. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa proses ini berlangsung melalui beberapa tahapan besar yang penuh hikmah.
Dengan memahami alurnya, membantu kita melihat sejarah turunnya Al Quran secara singkat dengan lebih utuh. Bukan hanya sebagai peristiwa spiritual, tetapi juga sebagai bagian dari penjagaan wahyu Allah sejak awal hingga sampai kepada umat manusia.
1. Penetapan di Lauhul Mahfuzh

Dalam kajian Ulumul Quran, dijelaskan bahwa sejarah turunnya al quran secara singkat terlebih dahulu berada di Lauhul Mahfuzh, yaitu tempat terjaganya seluruh ketetapan Allah SWT, termasuk takdir dan wahyu.
Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:
“Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauhul Mahfuzh.” (QS. Al-Buruj: 21–22)
Ayat ini menjadi dalil bahwa Al-Qur’an telah ditetapkan dan dijaga keasliannya sejak sebelum diturunkan ke alam dunia. Para ulama seperti Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa keberadaan Al-Qur’an di Lauhul Mahfuzh menunjukkan kemuliaan sekaligus jaminan penjagaan dari perubahan.
Dalam rangkaian sejarah turunnya Al Quran secara singkat, tahap ini bisa dipahami sebagai fase penetapan wahyu di sisi Allah sebelum disampaikan kepada makhluk.
2. Diturunkan ke Baitul ‘Izzah

Setelah berada di Lauhul Mahfuzh, Al-Qur’an kemudian diturunkan sekaligus ke Baitul ‘Izzah, yaitu tempat di langit dunia. Peristiwa ini terjadi pada malam yang sangat mulia: Lailatul Qadar, di bulan Ramadhan. Dalilnya terdapat dalam beberapa ayat:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadar: 1)
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhan: 3)
Mayoritas mufassir, termasuk Ibnu Abbas RA, menafsirkan bahwa ayat-ayat ini merujuk pada penurunan Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuzh ke langit dunia dalam satu malam.
Di sinilah letak salah satu kemuliaan Ramadan. Bukan hanya bulan puasa, tetapi juga bulan diturunkannya wahyu. Tahap ini menjadi bagian penting dalam memahami sejarah turunnya Al Quran secara singkat, karena menandai awal interaksi wahyu dengan alam semesta sebelum sampai kepada Rasulullah.
Baca Juga: Keutamaan Membaca Alquran di Bulan Ramadhan Menurut Hadits
3. Diturunkan Bertahap kepada Nabi Muhammad SAW

Tahap terakhir adalah proses turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur melalui Malaikat Jibril AS. Inilah fase yang paling panjang dan paling dikenal dalam literatur sirah. Al-Qur’an turun selama kurang lebih 23 tahun:
- Sekitar 13 tahun di Makkah (fokus tauhid dan akidah)
- Sekitar 10 tahun di Madinah (fokus hukum dan sosial)
Dalil tentang turunnya secara bertahap dijelaskan dalam firman Allah:
“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya perlahan-lahan kepada manusia…” (QS. Al-Isra: 106)
Selain itu, Allah juga menegaskan peran Malaikat Jibril dalam menyampaikan wahyu:
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu agar engkau menjadi salah seorang pemberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara: 192–194)
Proses bertahap ini dikenal dengan istilah munajjaman. Para ulama menjelaskan bahwa metode ini mengandung banyak hikmah. Menguatkan hati Nabi, menjawab peristiwa yang terjadi, serta memudahkan para sahabat dalam menghafal dan mengamalkan.
Dalam kerangka sejarah turunnya Al Quran secara singkat, fase inilah yang paling dekat dengan kehidupan Rasulullah dan umat Islam generasi pertama.
Hikmah di Balik Tiga Tahap Turunnya Al-Qur’an
Pembagian tahapan ini bukan tanpa tujuan. Para ulama tafsir menyebut beberapa hikmah besar, di antaranya:
- Menunjukkan kemuliaan Al-Qur’an, ditetapkan di Lauhul Mahfuzh dan diturunkan pada malam mulia.
- Menegaskan penjagaan wahyu: sejak sebelum diturunkan hingga sampai kepada Nabi.
- Menguatkan dakwah Rasulullah: wahyu turun sesuai kebutuhan.
- Memudahkan umat memahami syariat: hukum turun bertahap.
Imam Az-Zarkasyi dan As-Suyuthi menekankan bahwa memahami tahapan ini termasuk bagian penting dari ilmu Ulumul Quran.
Melihat rangkaian sejarah turunnya Al Quran secara singkat ini, kita jadi paham bahwa setiap ayat memiliki perjalanan yang agung. Baik dari sisi Allah, ke langit dunia, lalu ke hati Rasulullah SAW.
Karena itu, membaca Al-Qur’an bukan sekadar rutinitas. Ia adalah bentuk penghormatan terhadap wahyu yang diturunkan dengan proses penuh kemuliaan. Semakin sering kita membacanya, semakin dekat pula kita dengan sumber petunjuk hidup itu sendiri.
Urutan Peristiwa Turunnya Wahyu
Agar lebih mudah dipahami, berikut urutan peristiwa penting dalam sejarah turunnya Al Quran secara singkat:
- Khalwat di Gua Hira
Rasulullah sering menyendiri untuk bertafakur, menjauh dari kemusyrikan Quraisy.
- Turunnya Wahyu Pertama
Surah Al-‘Alaq 1–5 turun melalui Malaikat Jibril.
- Masa Fatrah (Terhentinya Wahyu Sementara)
Beberapa waktu wahyu tidak turun, membuat Rasulullah gelisah. Lalu turun Surah Ad-Dhuha sebagai penguat.
- Dakwah Secara Rahasia
Ayat-ayat Makkiyah awal berisi penguatan tauhid.
- Dakwah Terang-Terangan
Turunnya perintah berdakwah terbuka, seperti dalam Surah Al-Hijr: 94.
- Periode Madinah
Ayat mulai banyak membahas hukum. Seperti zakat, puasa, jihad, muamalah, dan keluarga.
- Wahyu Terakhir
Mayoritas ulama berpendapat bahwa ayat terakhir yang turun adalah firman Allah SWT:
“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, serta Aku ridai Islam sebagai agamamu…” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Ayat ini turun pada peristiwa Haji Wada’, Momentum turunnya ayat tersebut dipahami para sahabat sebagai penegasan bahwa syariat Islam telah sempurna, baik dari sisi akidah, ibadah, maupun hukum kehidupan.
Baca Juga: Pelajari Mukjizat Alquran dari Sisi Ilmu, Bahasa & Kehidupan
Saatnya Lebih Dekat dengan AlQuran
Perjalanan panjang dalam sejarah turunnya Al Quran secara singkat menunjukkan bahwa kitab suci ini bukan sekadar bacaan, tetapi petunjuk hidup yang diturunkan dengan penuh kemuliaan, dijaga oleh para malaikat, dan dipelihara para sahabat.
Kini, tugas kita adalah melanjutkan estafet itu. Dengan membaca, menghafal, dan mengamalkannya. Tidak perlu menunggu pandai. Tidak harus menunggu luang. Mulailah dari beberapa ayat setiap hari.
Agar ibadah membaca semakin nyaman, memiliki mushaf yang jelas, tajwid berwarna, dan dibaca tentu sangat membantu.
Safwan Quran hadir sebagai mushaf cetak yang didesain untuk membuat aktivitas tilawah terasa lebih nyaman dan terarah.
Setiap halamannya disusun dengan fitur pendukung yang membantu, mulai dari tajwid berwarna yang memudahkan pelafalan, transliterasi latin bagi yang masih belajar, tanda waqaf yang jelas untuk mengetahui tempat berhenti, hingga terjemah per kata agar makna ayat lebih mudah dipahami.
Mari hidupkan hari-hari kita dengan membaca alquran terbaik dari Safwan Quran!


