amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah

Catat! Amalan Yang Tidak Dikerjakan Saat Itikaf Adalah Hal-Hal Ini

Safwanquran.com – Ketika memasuki 10 malam terakhir ramadhan, banyak di antara muslim yang ingin berlomba-lomba memperbanyak ibadah, salah satunya dengan i’tikaf.

Hati terasa terpanggil, ingin lebih dekat dengan Allah, ingin merasakan suasana masjid yang lebih tenang dan khusyuk. Tapi di saat yang sama, muncul juga pertanyaan-pertanyaan kecil yang bikin ragu, seperti  “Kalau i’tikaf itu ngapain saja, ya?, “Boleh pegang HP nggak?”
“Kalau keluar sebentar batal nggak?” dan “Apa saja sih amalan yang tidak boleh dilakukan?”

Nah, kalau kamu lagi bingung dan menanyakan hal yang sama, itu wajar banget. Apalagi untuk yang pertama kali.

Kelihatannya, I’tikaf itu sederhana. Diam di masjid dan beribadah. Tapi dalam praktiknya, ada aturan yang perlu dipahami supaya ibadahnya sah dan tidak sia-sia.

Karena itu, penting sekali mengetahui amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah apa saja. Bukan untuk membuat kita takut memulai, tapi justru supaya lebih tenang dan percaya diri saat menjalaninya. Dengan memahami batasannya sejak awal, kita bisa fokus beribadah tanpa was-was.

Yuk, kita bahas satu per satu dengan penjelasan yang ringan dan mudah dipahami, khususnya buat kamu yang ingin mencoba i’tikaf untuk pertama kalinya.

Amalan yang Tidak Dikerjakan Saat Itikaf

Supaya i’tikaf pertama kamu berjalan lancar dan nggak penuh rasa was-was, ada baiknya kita kenali dulu batasannya. 

Dalam fikih Islam, para ulama merangkum ada tujuh hal utama yang bisa membatalkan i’tikaf. Artinya, amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah hal-hal yang memang secara tegas dilarang dan berpotensi merusak sahnya ibadah. Mari, kita bahas satu per satu dengan bahasa yang sederhana.

1. Murtad dari Islam

amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah

Hal paling mendasar dalam setiap ibadah adalah status keislaman. Jadi, amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah segala hal yang sampai membuat seseorang keluar dari Islam (murtad).

Kenapa ini membatalkan? Karena i’tikaf adalah ibadah khusus seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah. 

Dalam Al-Qur’an Surah Az-Zumar ayat 65 dijelaskan bahwa kesyirikan dapat menghapus amal. Mayoritas ulama pun sepakat bahwa jika seseorang keluar dari Islam, maka ibadahnya otomatis tidak sah.

Mungkin hal ini terdengar berat, tapi ini menunjukkan bahwa menjaga akidah adalah fondasi utama sebelum bicara ibadah lainnya.

2. Jimak (Hubungan Suami Istri)

amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah

Kalau kamu sudah menikah dan berencana mencoba i’tikaf, ada satu hal yang benar-benar perlu diperhatikan. 

Amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah melakukan hubungan suami istri, baik di siang hari maupun malam hari selama masih dalam masa i’tikaf.

Larangan ini disebutkan secara tegas dalam Surah Al-Baqarah ayat 187, yang menjelaskan agar tidak mencampuri istri ketika sedang beri’tikaf di masjid. Para ulama besar seperti Imam Syafi’i dan Imam Ahmad juga sepakat bahwa hubungan badan membatalkan i’tikaf.

Kenapa sampai sejelas itu? Karena i’tikaf adalah momen untuk fokus penuh pada ibadah. Ia seperti jeda sejenak dari rutinitas dan kesenangan dunia, termasuk urusan biologis. Menahan diri dari hubungan suami istri selama beberapa hari justru menjadi bagian dari latihan pengendalian diri dan penguatan ruhani.

3. Keluar Mani karena Mubasyarah

amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah

Selain hubungan suami istri secara langsung, ada juga amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah melakukan sentuhan atau bercumbu dengan pasangan hingga menimbulkan syahwat dan menyebabkan keluarnya mani, meskipun tanpa jimak.

Mayoritas ulama, termasuk Imam Malik, memandang perbuatan ini haram bagi orang yang sedang i’tikaf. Alasannya sederhana tapi penting.

I’tikaf adalah ibadah yang menuntut pengendalian diri. Ketika seseorang mulai membuka pintu syahwat, dikhawatirkan akan sulit menjaga batas berikutnya.

Memang ada perbedaan pendapat jika tidak sampai keluar mani. Namun untuk kamu yang baru pertama kali i’tikaf, mengambil sikap lebih hati-hati tentu lebih menenangkan. Fokus utama i’tikaf adalah mendekat kepada Allah, bukan memberi ruang bagi hal-hal yang bisa mengalihkan konsentrasi ibadah.

Baca Juga: Inilah Bacaan I’tikaf Terlengkap dan Amalan Sesuai Sunnah

4. Haid atau Nifas

amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah

Bagi perempuan, kondisi haid atau nifas membuatnya tidak boleh berdiam di masjid. Maka amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah tetap berada di masjid ketika sedang haid atau nifas.

Semua mazhab sepakat bahwa suci dari hadas besar adalah syarat sah i’tikaf. Jadi jika haid datang di tengah i’tikaf, wajib keluar dan menunggu sampai suci.

Kalau haid datang di tengah i’tikaf, tidak perlu panik atau merasa gagal. Itu bukan kesalahan, melainkan ketetapan biologis yang memang diatur dalam syariat. Yang perlu dilakukan adalah keluar dari masjid hingga suci. Setelah itu, bisa kembali lagi dan memperbarui niat i’tikaf.

5. Keluar Masjid Tanpa Udzur

amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah

Salah satu yang masih membuat bingung orang yang pertama kali, amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah soal keluar masuk masjid. 

Hakikat i’tikaf itu sendiri adalah berdiam diri di masjid untuk fokus beribadah. Jadi kalau seseorang keluar hanya karena bosan, ingin mencari suasana baru, atau sekadar ingin jalan-jalan sebentar, maka i’tikafnya bisa batal.

Ada sebuah riwayat dari Aisyah RA yang disebutkan dalam hadis riwayat Abu Dawud, bahwa orang yang beri’tikaf tidak keluar dari masjid kecuali karena udzur. Artinya, memang ada pengecualian, seperti:

  • Buang hajat
  • Wudhu atau mandi wajib
  • Keperluan darurat yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid

Di luar itu, sebaiknya tetap berada di area i’tikaf. Rasulullah SAW sendiri memberi contoh untuk menetap di masjid selama masa i’tikaf.

6. Mabuk yang Disengaja

amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah

Mungkin terdengar jarang terjadi, tapi tetap disebutkan dalam kitab-kitab fikih. Amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah membuat diri hilang kesadaran, misalnya dengan mabuk yang disengaja.

Mayoritas ulama menyatakan bahwa ibadah mensyaratkan akal yang sehat dan sadar. Tanpa kesadaran penuh, niat tidak sah dan dzikir tidak bermakna.

7. Gila atau Pingsan Lama

amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah

Terakhir, kehilangan akal karena gila atau pingsan dalam waktu lama juga membatalkan i’tikaf. Sebab i’tikaf memerlukan niat yang terus menyertai kondisi sadar.

Karena itu, segala hal yang membuat kesadaran hilang dalam durasi panjang hingga memutus kesinambungan niat. Maka, jika sudah sadar kembali, seseorang perlu masuk masjid dan memperbarui niatnya lagi.

Supaya Lebih Tenang Saat I’tikaf Pertama

Melihat banyaknya amalan yang tidak boleh dikerjakan saat itikaf ini, mungkin membuat kamu berpikir hal ini terlalu berat. Tapi sebenarnya hal ini tidak sesulit yang kamu bayangkan. Karena, sebenarnya sebagian besar larangan di atas adalah hal-hal besar dan jarang terjadi. Selama kamu:

  • Tetap berada di masjid
  • Menjaga diri dari hubungan suami istri
  • Dalam kondisi suci dan sadar

Maka i’tikafmu insyaAllah aman.

Memahami bahwa amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah hal-hal yang membatalkan atau merusak esensi ibadah justru akan membuatmu lebih tenang. Kamu jadi tahu batasannya, dan bisa fokus memperbanyak tilawah, dzikir, doa, serta shalat malam.

I’tikaf pertama bukan soal sempurna, tapi soal niat tulus dan usaha menjaga diri. Selama ada niat yang benar dan mengikuti tuntunan, insyaAllah Allah mudahkan langkahmu.

Baca Juga: Pengertian sholat i’tikaf, Tata Cara & Manfaatnya Bagi Muslim

Maksimalkan I’tikaf dengan Al-Qur’an

Pada akhirnya, memahami amalan yang tidak dikerjakan saat itikaf adalah langkah penting agar ibadah ini berjalan sah, tenang, dan penuh makna. Terutama buat kamu yang baru pertama kali mencoba, mengetahui batasannya justru membuat hati lebih mantap dan tidak dipenuhi rasa ragu.

Maka, agar i’tikaf terasa lebih hidup dan bermakna, mari jadikan Al-Qur’an sebagai teman utama. Dengan tilawah rutin dan khusyu, maka akan membuat malam-malam i’tikaf terasa jauh lebih khusyuk.

Oleh karena itu, Safwan Quran hadir sebagai pilihan yang tepat. Dilengkapi kode warna tajwid, transliterasi Latin per kata, serta tanda waqaf yang jelas, setiap ayat jadi lebih mudah dibaca dan minim kesalahan. Terjemahan Indonesia per kata dan tematik juga membantu memahami makna ayat secara praktis.

Yuk, maksimalkan i’tikafmu dengan tilawah terbaik bersama Safwan Quran. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top