Safwanquran.com – Emosi adalah bagian alami dari diri manusia. Setiap orang pasti pernah marah, kecewa, sedih, atau tersinggung. Namun dalam Islam, emosi bukan sesuatu yang dibiarkan lepas kendali. Justru, Islam hadir sebagai pedoman agar emosi bisa diarahkan, diredam, dan dikelola dengan cara yang menenangkan jiwa.
Menariknya, cara meredam emosi dalam Islam tidak hanya bersifat teori, tapi sangat praktis dan relevan untuk kehidupan sehari-hari. Rasulullah SAW sendiri telah memberi contoh nyata bagaimana menghadapi emosi dengan penuh kebijaksanaan. Mari kita bahas satu per satu.
Emosi dalam Pandangan Islam
Islam memandang emosi sebagai bagian dari fitrah manusia yang Allah ciptakan secara alami. Emosi bukan untuk dihapus atau ditekan habis-habisan, melainkan diarahkan dan dikendalikan agar tetap selaras dengan syariat.
Marah, sedih, takut, dan gembira semuanya disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, dengan penekanan bahwa emosi harus dikelola supaya tidak menjerumuskan manusia ke dalam dosa.
Al-Qur’an menegaskan bahwa emosi merupakan fitrah manusia yang Allah ciptakan secara alami. Rasa senang, sedih, marah, dan takut adalah bagian dari kehidupan batin manusia. Namun, Islam memberi batasan agar emosi tersebut dikendalikan dan diarahkan, sehingga tidak melampaui nilai-nilai syariat.
Melalui istilah-istilah khusus, Al-Qur’an menjelaskan emosi dalam konteks yang bisa bernilai positif maupun negatif, sekaligus memberikan panduan cara mengelolanya.
Jenis-Jenis Emosi dalam Al-Qur’an
- Emosi Senang (al-Farḥ)
Kegembiraan disebut al-farḥ. Ada rasa senang yang dibenarkan, seperti kebahagiaan para syuhada di sisi Allah, dan ada pula yang tercela, seperti kegembiraan berlebihan karena harta. Ini menunjukkan bahwa rasa senang seharusnya diarahkan pada ketaatan dan rasa syukur, bukan kesombongan. - Emosi Sedih (al-Ḫuzn)
Kesedihan dikenal dengan istilah al-ḫuzn, seperti kesedihan Nabi Ya’qub AS atas kehilangan Yusuf AS. Islam tidak melarang sedih, tetapi memberi harapan bahwa orang beriman kelak terbebas dari rasa takut dan sedih di akhirat. - Emosi Marah (al-Ghaḍab dan al-Ghayẓ)
Marah digambarkan dengan al-ghaḍab yang tampak secara lahir, dan al-ghayẓ yang dipendam dalam hati. Al-Qur’an memuji orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan, karena pengendalian ini bernilai pahala besar. - Emosi Takut (al-Khauf)
Rasa takut disebut al-khauf dan merupakan naluri manusia. Namun, Islam mengajarkan agar rasa takut diarahkan kepada Allah. Bagi orang beriman, Allah menjanjikan kehidupan akhirat yang bebas dari rasa takut dan kesedihan.
Ringkasnya, Islam tidak menolak emosi, tetapi membimbing manusia agar mengelolanya dengan bijak sehingga emosi menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sumber keburukan.
Pengendalian Emosi dalam Islam
Islam mengajarkan regulasi emosi melalui nilai-nilai sabar, takwa, dan keteladanan Rasulullah SAW. Ketika marah, Rasulullah SAW menganjurkan berwudhu (HR. Abu Dawud no. 4784), diam, atau mengubah posisi tubuh agar emosi mereda. Al-Qur’an juga menjanjikan pertolongan Allah bagi orang-orang yang bersabar (QS. Al-Baqarah: 153).
Ajaran ini selaras dengan konsep pengelolaan emosi dalam psikologi modern, namun memiliki dimensi spiritual yang lebih dalam.
Tujuan Spiritual Pengelolaan Emosi
Tujuan utama mengendalikan emosi dalam Islam adalah mendekatkan diri kepada Allah, menjaga kualitas ibadah seperti shalat, serta memperbaiki hubungan sosial. Orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan tidak hanya dipuji di dunia, tetapi juga dijanjikan pahala besar dan surga di akhirat (QS. Ali Imran: 134).
Dengan demikian, pengelolaan emosi dalam Islam bukan sekadar soal ketenangan batin, tetapi jalan menuju kedewasaan iman dan kemuliaan akhlak.
Cara Meredam Emosi Sesuai Ajaran Islam
Islam memberikan panduan yang jelas dan aplikatif untuk mengendalikan emosi, terutama amarah, melalui tuntunan Rasulullah SAW yang bersumber dari hadits-hadits shahih. Ajaran ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi mudah dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut lima cara meredam emosi dalam Islam yang dianjurkan Rasulullah SAW, lengkap dengan dalil agar hati semakin mantap dalam mengamalkannya.
1. Membaca Ta’awudz Saat Emosi Muncul
Ketika perasaan marah mulai memuncak, langkah pertama dalam cara meredam emosi dalam Islam adalah segera memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca, “A’udzu billahi minasy syaithanir rajim.” Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ada satu kalimat yang jika diucapkan dapat menghilangkan amarah, yaitu ta’awwudz. Hal ini karena amarah berasal dari bisikan setan, dan dengan menyebut nama Allah, pengaruh tersebut dapat diputus sehingga hati lebih cepat tenang.
2. Segera Berwudhu
Islam mengajarkan bahwa amarah diibaratkan seperti api, sementara setan diciptakan dari api. Karena itu, air menjadi penenangnya. Rasulullah SAW menganjurkan orang yang sedang marah untuk berwudhu.
Membasuh anggota tubuh dengan air tidak hanya membersihkan secara fisik, tetapi juga menurunkan ketegangan saraf dan emosi. Ini adalah cara meredam emosi dalam Islam yang sederhana namun sangat efektif jika dilakukan dengan kesadaran penuh.
3. Mengubah Posisi Tubuh
Saat marah dalam keadaan berdiri, Rasulullah SAW menganjurkan untuk duduk. Jika emosi belum juga reda, dianjurkan untuk berbaring. Perubahan posisi tubuh ini membantu menurunkan dorongan agresif dan ketegangan fisik yang sering menyertai amarah.
Dalam konteks cara meredam emosi dalam Islam, langkah ini menunjukkan bahwa pengendalian emosi juga melibatkan pengendalian tubuh.
4. Diam dan Menahan Lisan
Salah satu nasihat Rasulullah SAW yang sangat relevan adalah anjuran untuk diam ketika marah. Banyak penyesalan bermula dari ucapan yang keluar saat emosi tidak terkendali. Dengan memilih diam, seseorang memberi jeda pada hatinya untuk kembali stabil. Diam menjadi cara meredam emosi dalam Islam yang melindungi diri dari dosa lisan dan konflik yang lebih besar.
5. Mengingat Keutamaan Menahan Amarah
Motivasi spiritual juga menjadi kunci penting. Rasulullah SAW menyampaikan keutamaan besar bagi orang yang mampu menahan amarahnya, di antaranya perlindungan dari Allah dan janji pahala yang mulia.
Al-Qur’an pun memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan. Mengingat ganjaran ini membuat seseorang lebih kuat secara mental dan iman dalam menghadapi gejolak emosi. Inilah inti dari cara meredam emosi dalam Islam yang membentuk akhlak mulia seperti teladan Rasulullah SAW.
Dengan mempraktikkan kelima langkah di atas secara konsisten, seorang muslim tidak hanya belajar mengendalikan amarah, tetapi juga menumbuhkan ketenangan jiwa dan kedewasaan spiritual.
Cara meredam emosi dalam Islam bukan sekadar menahan diri, melainkan proses mendekatkan hati kepada Allah dan meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam setiap keadaan.
Baca Juga: 5 Cara Sabar Dalam Ujian dan Hikmahnya Agar Hidup Tenang
Meredam Emosi adalah Jalan Menuju Ketenangan
Mengendalikan emosi memang bukan perkara mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan ketika kita bersandar pada ajaran Islam. Melalui ta’awudz, memilih diam saat marah, berwudhu, melatih kesabaran, serta mendekat kepada Al-Qur’an, hati perlahan menjadi lebih tenang dan hidup terasa lebih damai. Inilah inti cara meredam emosi dalam Islam yang sederhana namun berdampak besar jika diamalkan secara konsisten.
Jika kamu ingin mulai memperbaiki emosi dan menenangkan hati, cobalah luangkan waktu setiap hari untuk membaca Alquran, meski hanya beberapa ayat saja dalam sehari. Jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat di saat hati lelah dan pikiran penuh.
Dan agar ibadah semakin nyaman, pastikan kamu memiliki mushaf Alquran yang nyaman dibaca dan tentunya berkualitas. Kamu bisa membeli Al-Qur’an dari Safwan Quran, yang dikenal dengan cetakan rapi, jelas, dan cocok untuk tilawah harian.
Yuk, mulai langkah kecil hari ini untuk hati yang lebih tenang dan emosi yang lebih terjaga bersama safwan quran!


