Safwanquran.com – Banyak orang yang penasaran, makam Rasulullah berada di kota mana sebenarnya. Pertanyaan ini sering muncul, terutama dari para jamaah haji, umrah, atau siapa pun yang ingin mengenal lebih dekat sejarah Nabi Muhammad SAW.
Jawabannya, makam Rasulullah SAW berada di Kota Madinah, Arab Saudi, tepatnya di dalam kompleks Masjid Nabawi yang menjadi masjid suci kedua setelah Masjidil Haram di Makkah.
Namun, perjalanan sejarah makam beliau tidak sesederhana yang banyak dibayangkan. Lokasinya penuh makna, dijaga dengan ketat, dan terus dijaga sejak abad pertama Hijriah. Melalui artikel ini, kita akan sama-sama belajar memahami lebih dalam tentang lokasi, sejarah, riwayat hadis, hingga perkembangan arsitektur makam Nabi sepanjang zaman.
Dimana Tepatnya Makam Rasulullah SAW?
Ketika kita membicarakan makam Rasulullah berada di kota, maka seluruh pembahasan akan selalu merujuk pada Madinah Al-Munawwarah. Kota ini bukan hanya tempat hijrah dan pusat dakwah Islam pertama, tapi juga tempat Nabi SAW menjalani kehidupan rumah tangga, memimpin umat, hingga akhirnya wafat dan dimakamkan.
Secara spesifik, makam Rasulullah SAW terletak di bagian timur Masjid Nabawi, di sebuah ruangan yang dulu merupakan kamar (hujrah) milik istri beliau, Sayyidah Aisyah RA. Ruangan kecil ini kini menjadi salah satu titik tersuci dalam Islam karena di situlah jasad manusia paling mulia disemayamkan.
Ciri paling mudah dikenali di area makam ini adalah kubah hijau yang berdiri dengan megah. Kubah ini kini menjadi ikon utama Masjid Nabawi dan simbol Madinah itu sendiri.
Apa Saja yang Ada di Sekitar Makam Rasulullah?
Perihal makam rasulullah berada di kota madinah, sudah banyak yang tahu. Tapi, mungkin belum banyak yang tahu bahwa makam Nabi bukan berdiri sendiri. Di dalam ruangan tersebut, ada dua sahabat yang kedudukannya sangat dekat dengan Nabi, yaitu:
- Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, sahabat terbaik dan khalifah pertama
- Umar bin Khattab RA, amirul mukminin yang memimpin setelah Abu Bakar
Keduanya dimakamkan berdampingan dengan Rasulullah SAW. Posisi Nabi berada di tengah, Abu Bakar di sisi kanan beliau, dan Umar di sisi kanan Abu Bakar. Susunan ini menggambarkan kedekatan mereka bukan hanya dalam hidup, tapi juga setelah wafat.
Tidak jauh dari area ini terdapat Rawdah, sebuah area seluas kurang-lebih 26,6 x 15 meter, terletak di antara mimbar Nabi dan kamar Aisyah. Rawdah dikenal sebagai taman surga karena dalam hadis disebutkan sebagai tempat mustajab berdoa. Tak heran, jamaah dari seluruh dunia rela antre panjang hanya untuk bisa salat beberapa saat di dalamnya.
Bagaimana Akses Menuju Area Makam?
Setelah tahu makam rasulullah berada di kota madinah, biasanya peziarah memasuki area dekat makam melalui pintu-pintu khusus, seperti Bab al-Tahajjud atau Bab al-Tawbah. Antrean bisa panjang hingga keluar masjid, terutama di musim haji atau Ramadhan. Akses ke titik paling dekat dengan makam tidak terbuka bebas. Pengunjung hanya bisa melihat dari balik pagar hijau berornamen khas.
Pembatasan ini bukan tanpa alasan. Area makam dijaga ketat untuk:
- Menghindari keramaian berlebihan
- Menjaga ketenangan dan kehormatan area suci
- Mencegah tindakan yang tidak sesuai adab ziarah
Mengapa Rasulullah Dimakamkan di Kamar Aisyah?
Pertanyaan ini sering muncul ketika membicarakan makam Rasulullah berada di kota Madinah. Kenapa beliau tidak dimakamkan di Baqi, atau bahkan Makkah?
Jawabannya dijelaskan langsung melalui hadis sahih. Dalam riwayat Sahih al-Bukhari, Aisyah RA menceritakan bahwa para sahabat sempat berdiskusi soal lokasi pemakaman Nabi. Namun Abu Bakar RA menyampaikan sabda Rasulullah:
“Para nabi dimakamkan di tempat mereka wafat.”
Nabi wafat di kamar Aisyah, sehingga jenazah beliau dimakamkan di sana. Abu Thalhah kemudian menggali kubur di bawah ranjang Aisyah, dan jenazah Nabi dimakamkan pada 11 H/632 M.
Sahih Muslim menambahkan detail lebih lengkap, mulai dari siapa saja yang memandikan jenazah Rasulullah. Di antaranya Ali bin Abi Thalib dan Abbas bin Abdul Muthalib, hingga penggalian kubur yang dilakukan oleh Abu Thalhah tepat di bawah tempat tidur Aisyah RA.
Sirah Ibn Ishaq menjelaskan bahwa para sahabat sempat berbeda pendapat tentang lokasi pemakaman Nabi hingga Abu Bakar RA mengingatkan hadis bahwa para nabi dimakamkan di tempat wafatnya. Karena itu, Rasulullah SAW dimakamkan di kamar Aisyah, dan riwayat lain menegaskan bahwa Abu Bakar dan Umar RA kemudian dimakamkan di sisi beliau.
Perkembangan Struktur Makam dari Masa ke Masa
Meski lokasi makam rasulullah berada di kota madinah tidak pernah berubah, struktur bangunan yang melindunginya mengalami perkembangan secara bertahap.
dari bangunan sederhana hingga menjadi kompleks megah dengan kubah hijau yang begitu terkenal. Berikut perkembangannya:
1. Awal Mula (Abad 7 H)

Pada 11 H/632 M, makam Rasulullah berada di kota madinah ini dibuat sangat sederhana di kamar Sayyidah Aisyah RA, masih berada di luar area masjid. Penggalian kuburnya dilakukan oleh Abu Thalhah.
Memasuki abad ke-7 H, Khalifah Umar dan Utsman RA memperluas Masjid Nabawi, termasuk area di sekitar kamar Aisyah, namun bangunannya masih memakai material sederhana seperti lumpur dan kayu kurma.
2. Masa Umayyah dan Abbasiyah (Abad 2–7 H)

Pada tahun 91 H/707 M, Al-Walid bin Abdul Malik melakukan renovasi besar dengan memasukkan kamar Aisyah ke dalam masjid. Ia membangun dinding segi lima untuk menghindari penyembahan langsung ke arah makam.
Kubah pertama baru dibuat jauh kemudian, sekitar tahun 678 H/1279 M oleh Sultan Mamluk Qalawun, menggunakan rangka kayu tanpa pewarnaan, lalu ditambah struktur batu dan pelat timah sebagai pelindung.
Baca Juga: Meneladani Kesederhanaan Rasulullah dalam Sehari-hari
3. Masa Mamluk dan Utsmaniyah (Abad 8–13 H)

Di masa Sultan Qaitbay pada abad ke-15 M, pagar kayu diganti dengan pagar kuningan yang lebih kokoh, dinding-dindingnya dilapisi marmer, dan area Rawdah juga dipercantik dengan marmer.
Pada 1233 H/1817 M, Sultan Mahmud II dari Kesultanan Utsmaniyah melakukan renovasi besar pada makam rasulullah berada di kota madinah ini. Termasuk memperbaiki kubah dan memberi warna hijau yang akhirnya menjadi ciri khas Masjid Nabawi sampai sekarang.
4. Renovasi Modern (Abad 14 H–Sekarang)

Di era pemerintahan Saudi, Masjid Nabawi mengalami banyak peningkatan, mulai dari penggunaan marmer berkualitas tinggi, tambahan kaligrafi, hingga perluasan masjid yang membuat bentuknya menjadi persegi panjang seperti sekarang.
Perawatan terus dilakukan secara rutin, dengan pengaturan akses yang tetap ketat agar peziarah bisa berziarah dengan tertib dan aman.
Baca Juga: Gua Tempat Nabi Bersembunyi Saat Hijrah ke Madinah
Merawat Sejarah dengan Membaca Alquran
Dari seluruh perjalanan sejarah panjang ini, kita bisa melihat bahwa makam Rasulullah berada di kota Madinah bukan hanya sebagai lokasi sakral, tetapi juga menjadi simbol cinta dan penghormatan umat sepanjang generasi.
Mengenal sejarah dan letak makam Rasulullah membuat hati terasa lebih dekat. Namun kedekatan sejati bukan hanya lewat memahami lokasinya, tapi melalui upaya meneladani ajaran Rasulullah dan menjaga hubungan kita dengan Al-Quran.
Kalau kamu ingin semakin dekat dengan Rasulullah SAW, langkah paling sederhana adalah dengan memperbanyak membaca Alquran. Maka, memiliki alquran yang nyaman dengan fitur terbaik adalah hal yang perlu kamu miliki.
Safwan quran hadir sebagai jawabannya. Alquran dari safwan quran, selain nyaman dibaca ia juga memiliki fitur lengkap. Mulai dari transliterasi latin, tajwid warna, hingga QR video. Sehingga memudahkanmu belajar tajwid secara langsung.
Yuk mulai perkuat hubungan dengan Alquran bersama Safwan Quran!


