Safwanquran.com – Mungkin pernah terjadi di antara kita, berjanji pada diri sendiri untuk bangun lebih pagi untuk menunaikan tahajud, setelah subuh berolahraga, rajin belajar, atau konsisten beribadah, tapi akhirnya ingkar?
Sekilas terlihat sepele, karena yang dilanggar bukan janji pada orang lain. Padahal, jika dipikir lebih dalam, pertanyaan mengapa janji harus ditepati justru bermula dari komitmen kecil yang kita buat pada diri sendiri.
Dalam Islam, janji bukan hanya urusan lisan atau kesepakatan sosial. Janji adalah amanah. Ia berkaitan langsung dengan keimanan, kejujuran, dan tanggung jawab seorang hamba di hadapan Allah SWT. Bahkan, setiap janji akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat.
Lalu, mengapa janji harus ditepati dan apa hikmahnya bagi diri sendiri? Mari kita bahas dengan lebih bermakna dalam artikel ini.
Pengertian Menepati Janji dalam Islam
Menepati janji dalam Islam adalah kewajiban moral sekaligus kewajiban agama. Janji dipandang sebagai komitmen yang harus dipenuhi, karena ia dianggap sebagai “utang” yang melekat pada diri seseorang. Baik janji kepada Allah maupun kepada sesama manusia, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.
Inilah salah satu jawaban utama dari pertanyaan mengapa janji harus ditepati. Bukan sekadar soal etika, tetapi soal iman. Orang yang terbiasa menepati janji menunjukkan integritas dan amanah, dua sifat penting seorang Muslim sejati.
Hukum Menepati Janji
Dalam Islam, menepati janji hukumnya wajib (fardhu). Kewajiban ini berlaku untuk semua jenis janji, tanpa terkecuali.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra’: 34:
“Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.”
Ayat ini menegaskan bahwa janji bukan perkara ringan. Mengingkari janji termasuk dosa besar dan menjadi salah satu tanda kemunafikan. Maka, semakin jelas alasan mengapa janji harus ditepati, karena konsekuensinya bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Jenis-Jenis Janji dalam Islam
Menepati janji dalam Islam dapat dibedakan berdasarkan pihak yang terlibat. Meski bentuk dan konteksnya berbeda, baik janji kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia sama-sama wajib dipenuhi sebagai wujud amanah dan keimanan seorang Muslim.
- Janji kepada Allah SWT
Janji ini bersifat vertikal, yaitu komitmen langsung antara hamba dengan Allah. Janji tersebut sudah dimulai sejak kesaksian tauhid di alam ruh sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-A’raf: 172. Termasuk di dalamnya nazar dan sumpah ibadah, seperti berjanji untuk melaksanakan shalat sunnah tambahan atau amalan tertentu.
Jika janji ini dilanggar, pelanggarannya menyangkut hak Allah secara langsung sehingga dosanya lebih berat. Dalam kondisi tertentu, pelanggaran janji kepada Allah juga mewajibkan kaffarah, sebagaimana dijelaskan dalam QS. An-Nahl: 91.
- Janji kepada Sesama Manusia
Janji ini bersifat horizontal dan berkaitan dengan hubungan antar manusia. Contohnya meliputi akad jual beli, perjanjian utang-piutang, maupun janji sosial yang diucapkan secara lisan atau tertulis.
Menepati janji ini hukumnya wajib karena melibatkan hak orang lain, sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al-Maidah: 1. Mengingkari janji kepada sesama tidak hanya bernilai dosa, tetapi juga termasuk salah satu tanda kemunafikan menurut hadits Nabi SAW.
Dengan pembagian ini, semakin jelas bahwa setiap janji memiliki tanggung jawab besar dan tidak boleh dianggap remeh, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalil Al-Qur’an dan Hadits tentang Menepati Janji
Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW sangat menekankan pentingnya menepati janji. Dalam QS. An-Nahl: 91, Allah memerintahkan agar umat Islam tidak membatalkan sumpah setelah meneguhkannya. Sementara dalam QS. Al-Mu’minun: 8, menjaga amanah dan janji disebut sebagai ciri orang beriman.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Tanda orang munafik ada tiga, salah satunya apabila berjanji, ia mengingkarinya.” (HR. Bukhari)
Hadits ini menjadi pengingat keras sekaligus jawaban tegas tentang mengapa janji harus ditepati. Janji adalah pembeda antara mukmin dan munafik.
Hikmah Menepati Janji bagi Diri Sendiri
Menepati janji kepada diri sendiri ternyata membawa banyak manfaat nyata. Bukan hanya membentuk karakter yang kuat dan disiplin, tetapi juga menumbuhkan ketakwaan serta menjaga hati dari kerugian spiritual dan tekanan psikologis.
1. Membentuk Disiplin Diri
Ketika seseorang berusaha menepati janji pada dirinya sendiri, ia sedang melatih kemampuan mengendalikan hawa nafsu dan bersikap konsisten terhadap komitmen pribadi. Inilah alasan mengapa janji harus ditepati, karena disiplin tidak lahir secara instan, tetapi dibangun dari komitmen kecil yang dijaga dengan sungguh-sungguh.
Allah SWT Berfirman:
وَأَوْفُواْ بِعَهْدِ اللّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ
“Dan penuhilah janji kepada Allah apabila kamu berjanji” (QS. An-Nahl: 91).
2. Menumbuhkan Kepercayaan Diri
Setiap kali janji pribadi berhasil dipenuhi, rasa percaya diri pun ikut meningkat. Seseorang merasa mampu memegang kendali atas dirinya sendiri, sehingga keraguan batin perlahan berkurang.
Dari sinilah potensi untuk meraih target yang lebih besar terbuka. Maka tidak heran jika menepati janji juga berkaitan erat dengan pembentukan mental yang kuat dan optimis. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah: 195).
3. Menjauhkan Diri dari Sifat Munafik
Janji pada diri sendiri tetaplah sebuah amanah yang disaksikan oleh Allah SWT. Menepatinya membantu seseorang menjauh dari sifat munafik dan mendekatkan diri pada karakter mukmin sejati. Allah berfirman:
وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَـٰنَـٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ
“Dan orang-orang yang menjaga amanah-amanah dan janji-janjinya” (QS. Al-Mu’minun: 8).
Secara batin, hal ini menjaga ketenangan hati dan menghindarkan dari rasa gelisah akibat merasa mengkhianati komitmen. Inilah salah satu hikmah mendalam mengapa janji harus ditepati.
Baca Juga: Ketahui Dalil tentang Licik & Bahayanya bagi Seorang Muslim
4. Meraih Ridha dan Pahala dari Allah
Menepati nazar atau janji kebaikan pada diri sendiri membuka pintu pahala dari Allah SWT. Dampaknya tidak hanya dirasakan di akhirat, tetapi juga menghadirkan ketenangan hati dan keberkahan dalam hidup. Ini menjadi penguat motivasi dari dalam diri, sekaligus jawaban spiritual tentang mengapa janji harus ditepati.
Dalil:
فَمَنْ نَذَرَ فَلْيَقْضِهِ
“Maka barang siapa bernazar, hendaklah ia memenuhinya” (QS. Al-Hajj: 29).
5. Menghindarkan Penyesalan di Masa Depan
Mengabaikan janji kepada diri sendiri sering menimbulkan rasa bersalah yang berkepanjangan dan berdampak buruk pada kesehatan mental. Sebaliknya, menepati janji membantu membangun kepercayaan diri dan momentum kesuksesan secara bertahap. Ini menjadi fondasi kestabilan emosional dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Dengan memahami hikmah-hikmah ini, menepati janji tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai jalan untuk membangun diri yang lebih kuat, tenang, dan diridhoi Allah SWT.
Baca Juga: Jangan Salah Lagi! Arti InsyaAllah adalah bukan Hanya Janji
Mari Mulai dari Janji Kecil
Kini kita tahu bahwa jawaban dari pertanyaan mengapa janji harus ditepati bukan hanya soal moral, tetapi juga iman, karakter, dan masa depan diri sendiri. Menepati janji adalah cerminan kejujuran, amanah, dan kedewasaan spiritual.
Jika ingin melatih diri menepati janji, mulailah dari yang paling mendasar, yakni janji untuk lebih dekat dengan Alquran. Mari luangkan waktu setiap hari untuk membaca, memahami, dan mengamalkan alquran karena ia adalah sumber cahaya yang membimbing kita agar istiqomah dalam setiap komitmen hidup.
Untuk menemani tilawah harianmu, kamu bisa memiliki mushaf terbaik dari Safwan Quran, dengan cetakan nyaman dibaca dan kualitas yang terjaga. Fitur-fiturnya juga sangat lengkap. mulai dari tajwid warna, transliterasi latin, hingga QR video yang memudahkan kamu belajar tajwid secara langsung. Harganya ramah di kantong, mudah dibeli, dan bisa dikirim ke seluruh Indonesia.
Mari menata hidup agar lebih berkah dengan tilawah bersama alquran Safwan Quran!
