Safwanquran.com – Dalam khazanah Asmaul Husna, setiap nama Allah SWT bukan sekadar sebutan, tetapi mengandung makna mendalam yang menuntun manusia memahami siapa Rabb yang mereka sembah. Salah satu nama yang sarat makna kesucian adalah Al-Quddus. Memahami pengertian Al Quddus tidak hanya memperkaya wawasan keislaman, tetapi juga membantu kita memperbaiki cara hidup agar lebih bersih, lurus, dan bernilai ibadah.
Artikel ini akan mengajak kita mengulas pengertian Al – Quddus dari sisi bahasa dan istilah, dalil Al-Qur’an serta hadits, hingga bagaimana meneladani sifat suci ini dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang realistis dan aplikatif.
Pengertian Al Quddus Secara Bahasa
Jika ditelusuri dari sisi bahasa, pengertian Al Quddus berakar dari kata Arab q-d-s yang bermakna suci, bersih, murni, dan terbebas dari segala noda. Akar kata ini juga melahirkan istilah Al-Quds dan Al-Muqaddas yang memiliki makna menyucikan, memuliakan, serta menjauhkan dari keburukan.
Makna bahasa ini menunjukkan bahwa Al-Quddus adalah kesucian yang absolut. Bukan sekadar bersih dari kotoran fisik, tetapi juga murni dari segala bentuk kekurangan, kelemahan, dan ketidaksempurnaan. Kesucian ini tidak bisa dibandingkan dengan apapun, karena ia melekat pada Zat Allah SWT secara sempurna.
Pengertian Al Quddus dalam Istilah Syariah
Dalam konteks Asmaul Husna, pengertian Al Quddus berarti Allah Maha Suci, Mahamurni, dan Maha Bersih dari segala sifat tercela. Allah SWT terbebas dari segala bentuk kekurangan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, serta tidak memiliki kesamaan sedikit pun dengan makhluk-Nya.
Kesucian Allah ini juga mencakup kemurnian dari syirik, sekutu, atau ketergantungan pada apa pun. Dialah Zat yang disucikan dan dipuji oleh seluruh makhluk di langit dan di bumi. Karena itulah, Al-Quddus menegaskan bahwa hanya Allah yang layak disembah dan diagungkan sepenuhnya.
Dalil Al-Quddus dalam Al-Qur’an
Al-Quddus disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an sebagai salah satu nama Allah SWT. Dalil utama yang sering dijadikan rujukan terdapat dalam QS. Al-Hasyr ayat 23. Dalam ayat tersebut Allah menyebut diri-Nya sebagai Raja, Maha Suci (Al-Quddus), Maha Sejahtera, dan Maha Pemberi Keamanan.
Ayat lain yang menegaskan pengertian Al Quddus terdapat dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 1. Seluruh isi langit dan bumi bertasbih kepada Allah, Raja, Maha Suci, Maha Perkasa, dan Maha Bijaksana. Ini menunjukkan bahwa kesucian Allah diakui dan dimuliakan oleh seluruh makhluk, baik yang terlihat maupun yang tidak.
Selain itu, QS. As-Saffat ayat 159 juga menegaskan bahwa Allah Maha Suci dari segala sifat yang disandarkan manusia secara keliru kepada-Nya. Ayat ini semakin menguatkan keyakinan bahwa Al-Quddus adalah kesucian mutlak yang tidak tercemar oleh apa pun.
Dalil Al-Quddus dalam Hadits
Makna Al-Quddus juga tercermin dalam doa dan dzikir yang diajarkan Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW membaca tasbih yang mengagungkan kesucian Allah, “Subhanallah, Subhanallah, Tuhan para malaikat dan Jibril.”
Hadits ini menunjukkan bahwa pengakuan terhadap kesucian Allah merupakan bagian penting dari ibadah dan dzikir seorang Muslim. Dengan memahami pengertian Al Quddus, seorang hamba diajak untuk terus menyucikan Allah dalam hati, lisan, dan perbuatannya.
Meneladani Sifat Al-Quddus dalam Kehidupan Sehari-hari
Meneladani sifat Al-Quddus berarti berusaha menjaga kesucian diri, baik dari sisi hati, lisan, perbuatan, maupun lingkungan sekitar. Meski kesucian yang sempurna hanya milik Allah SWT, manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar membersihkan diri sesuai kemampuan. Inilah wujud pengamalan pengertian Al Quddus dalam kehidupan nyata. Berikut lima cara praktis yang bisa diterapkan sehari-hari.
1. Menyucikan Hati dengan Perbuatan Baik

Hati yang bersih adalah fondasi utama akhlak yang baik. Menyucikannya bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti membiasakan diri mendengar nasihat positif, menghindari tontonan yang tidak bermanfaat, berbicara dengan lembut, serta berbuat baik kepada sesama tanpa mengharap balasan. Kebiasaan ini membantu membersihkan jiwa dari rasa iri, dengki, dan dendam.
Ketika hati dijaga kebersihannya, seseorang akan lebih mudah merasakan ketenangan. Inilah cerminan dari pengertian Al-Quddus, yakni kesucian yang bebas dari sifat tercela. Praktik kecil seperti tersenyum dan memberi salam kepada tetangga setiap pagi bisa menjadi latihan sederhana untuk membangun kebersihan batin secara konsisten.
2. Rajin Menjaga Shalat dengan Khusyu

Shalat merupakan sarana utama untuk menyucikan hati dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan menjaga shalat lima waktu secara khusyu, seseorang dilatih untuk menjauhkan diri dari syirik, riya, dan kemunafikan. Shalat yang dilakukan dengan penuh kesadaran mampu menjadi benteng dari perbuatan maksiat.
Untuk memperkuat konsistensi, shalat sunnah, khususnya shalat malam, bisa menjadi amalan tambahan.
Baca Juga: 7 Contoh Al quddus dalam Kehidupan sehari-hari dan Maknanya
3. Menjaga Lisan dari Ucapan Buruk

Lisan sering kali menjadi pintu masuk dosa jika tidak dijaga. Menghindari kata-kata kasar, ghibah, dan cemoohan merupakan bentuk nyata dari upaya menyucikan diri. Sebaliknya, lisan sebaiknya digunakan untuk berdzikir, berdoa, dan menyampaikan kata-kata yang membawa kebaikan.
Lisan yang terjaga mencerminkan pemahaman terhadap makna Al Quddus, karena ucapan yang bersih akan melahirkan hati yang bersih pula. Membiasakan berpikir sebelum berbicara, terutama saat menasihati atau mengajar, akan membuat kata-kata yang keluar lebih mendidik dan menenangkan.
4. Menjaga Kebersihan Fisik dan Lingkungan

Kesucian tidak hanya berkaitan dengan batin, tetapi juga tampak dari kebersihan lahiriah. Membiasakan membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan rumah, serta rutin bersuci adalah bagian dari ajaran Islam yang sangat ditekankan. Kebersihan fisik ini menjadi refleksi dari kesucian batin.
Dalam konteks Al-Quddus, kebersihan lingkungan adalah bentuk ikhtiar meneladani sifat Allah Yang Maha Suci. Kegiatan sederhana seperti membersihkan rumah atau masjid bersama keluarga dan anak-anak dapat menjadi sarana melatih disiplin sekaligus menanamkan nilai kesucian sejak dini.
5. Berdoa dan Menjauhi Maksiat

Upaya menjaga kesucian diri perlu dibarengi dengan doa dan istighfar. Memohon kepada Allah agar dibersihkan dari dosa serta dijauhkan dari maksiat, baik melalui pandangan, ucapan, maupun perbuatan, merupakan bentuk ketergantungan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Mengamalkan dzikir seperti “Ya Quddus” setelah shalat dapat menjadi pengingat akan makna Al Quddus, bahwa hanya Allah yang Maha Suci, sementara manusia senantiasa membutuhkan ampunan dan bimbingan-Nya. Dengan doa dan kesadaran ini, hati akan lebih terjaga dari kebencian dan niat buruk.
Baca Juga: Ketika Kita Meneladani Sifat Allah Kita Akan Selalu Tenang
Menguatkan Hati dengan Al-Qur’an
Memahami pengertian Al Quddus membawa kita pada satu kesimpulan penting bahwa kesucian Allah SWT adalah teladan agung yang patut direnungkan dan didekati. Salah satu cara terbaik untuk menjaga hati tetap bersih dan terarah adalah dengan rutin membaca Al-Qur’an.
Jika Anda ingin mulai membangun kebiasaan membaca Al-Qur’an secara lebih terarah dan bermakna, memilih mushaf yang nyaman dibaca tentu menjadi langkah awal yang penting. Al-Qur’an dari Safwan Quran hadir sebagai teman ibadah yang dirancang untuk membantu pembaca membaca dengan tartil dan lebih mudah melakukan tadabbur.
Dengan tampilan yang rapi dan nyaman , membaca Al-Qur’an terasa lebih tenang, sehingga hati perlahan bersih, pikiran lebih jernih, dan kedekatan dengan Allah SWT pun semakin terasa dalam setiap ayat yang dibaca.
Mulailah dari hari ini. Luangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, karena dari sanalah kesucian hati perlahan tumbuh dan terjaga.


