Safwanquran.com – Sejatinya, ramadhan menjadi bulan yang selalu spesial di hati seluruh umat islam. Pahala yang berlimpah, serta ampunan Allah yang luas, menjadikan banyak orang ingin terus berlomba memenangkan bulan ini dengan sebaik-baiknya. Meminimalisir perbuatan tercela dan memaksimalkan ibadah. Salah satunya, dengan melaksanakan i’tikaf.
Saat ramadhan tahun lalu, mungkin kita sudah berusaha untuk ber’itikaf. Namun, di sisi lain merasa belum maksimal karena sebenarnya bingung, sholat yang dikerjakan saat i’tikaf apa saja? Dan selain shalat, amalan apa yang harus dikerjakan?
Nah, supaya tidak keliru, penting untuk mengenali lebih dalam pengertian sholat i’tikaf, bagaimana tata caranya, serta manfaat spiritual yang akan kita dapatkan saat kita berupaya melakukan i’tikaf yang sesuai sunnah.
Pengertian Sholat I’tikaf
Secara sederhana, sholat i’tikaf adalah istilah yang digunakan masyarakat untuk menggambarkan ibadah i’tikaf yang diisi dengan berbagai sholat sunnah. Padahal, inti dari i’tikaf itu sendiri adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT.
Secara bahasa, i’tikaf berarti menetap atau tinggal di suatu tempat. Sementara secara syar’i, i’tikaf dimaknai sebagai berdiam di masjid yang digunakan untuk sholat berjamaah dengan tujuan memutus kesibukan duniawi dan memperbanyak ketaatan.
Selama waktu tersebut, seorang Muslim dianjurkan menyibukkan diri dengan dzikir, tilawah Al-Qur’an, doa, serta muhasabah diri.
Di bulan Ramadhan, amalan ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa, terutama pada sepuluh malam terakhir. Rasulullah SAW mencontohkan untuk menghidupkan malam-malam tersebut dengan i’tikaf demi meraih keutamaan Lailatul Qadar.
Karena itu, pelaksanaan sholat i’tikaf sering kali menjadi momen puncak spiritual seorang Muslim selama Ramadhan.
Tata Cara Sholat I’tikaf
Pelaksanaan sholat i’tikaf dimulai sejak seseorang memasuki masjid dengan niat. Niat ini bisa diucapkan dalam hati atau dilafalkan sebagai bentuk kesungguhan beribadah karena Allah SWT.
Setelah itu, waktu yang dimiliki selama berada di masjid diisi dengan berbagai amalan. Sholat wajib berjamaah, lalu dilanjutkan dengan sholat sunnah, dzikir, membaca Al-Qur’an, hingga menghadiri majelis ilmu jika ada.
Selama i’tikaf, seseorang dianjurkan menjaga adab. Ia tidak keluar masjid kecuali untuk kebutuhan mendesak seperti makan, buang hajat, atau keperluan yang tidak bisa ditinggalkan. Interaksi dengan keluarga tetap diperbolehkan dalam batas yang dibenarkan syariat.
Ragam Sholat Sunnah Saat I’tikaf
Karena sholat i’tikaf bukan sholat khusus, maka ibadah ini dipenuhi dengan berbagai sholat sunnah yang memperkaya pahala. Di antaranya seperti:
1. Sholat Tahiyatul Masjid

Setiap kali memasuki masjid untuk memulai i’tikaf, seorang Muslim dianjurkan menunaikan sholat tahiyatul masjid sebanyak dua rakaat. Sholat ini bukan sekadar amalan pembuka, tetapi juga bentuk penghormatan kepada rumah Allah sebelum duduk atau beraktivitas di dalamnya.
Anjuran ini bersandar pada sabda Rasulullah SAW:
“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, janganlah duduk sehingga sholat dua rakaat.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan jamaah ahli hadits)
Para ulama, termasuk dari kalangan Hanafiyah dan mayoritas mazhab lainnya, menempatkan tahiyatul masjid sebagai amalan penting saat i’tikaf. Hikmahnya adalah menjaga kekhusyukan sejak awal memasuki masjid, sekaligus membersihkan hati sebelum melanjutkan ibadah lain seperti dzikir dan tilawah.
2. Sholat Rawatib

Selain tahiyatul masjid, sholat sunnah rawatib juga sangat dianjurkan selama i’tikaf. Rawatib adalah sholat sunnah yang mengiringi sholat wajib, baik yang dilakukan sebelum (qobliyah) maupun sesudahnya (ba’diyah).
Jumlah rawatib muakkadah yang paling utama adalah 12 rakaat. Rinciannya meliputi dua rakaat sebelum Subuh, empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dan dua rakaat setelah Isya. Konsistensi menjaga rawatib memiliki keutamaan besar sebagaimana sabda Nabi SAW:
“Barangsiapa mengerjakan 12 rakaat sunnah rawatib, Allah akan buatkan rumah baginya di surga.”
(HR. Muslim)
Ulama seperti Imam Syafi’i dan Hanafi menekankan pentingnya rawatib sebagai penyempurna sholat wajib. Saat i’tikaf, rawatib berfungsi menjaga ritme ibadah agar tetap hidup dari waktu ke waktu, tidak hanya fokus pada malam hari saja.
Baca Juga: Jangan Asal Berdoa! Ini Adab Berdoa Sesuai Sunnah yang Benar
3. Sholat Tahajud dan Witir

Ketika malam mulai sunyi, i’tikaf memasuki fase paling mendalam, yaitu qiyamul lail. Sholat tahajud menjadi amalan utama yang dilakukan pada sepertiga malam terakhir, setelah sempat beristirahat.
Jumlah rakaatnya minimal dua dan bisa ditambah hingga delapan rakaat atau lebih sesuai kemampuan. Setelah tahajud, dianjurkan menutup sholat malam dengan witir sebagai penyempurna.
Keutamaan tahajud disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu…”
(QS. Al-Isra: 79)
Aisyah RA juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menunaikan sholat malam dengan rakaat yang panjang dan khusyuk (HR. Bukhari dan Muslim). Ulama Syafi’iyah, seperti Asy-Syarbini, bahkan menilai tahajud sebagai sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan, terlebih saat i’tikaf karena bertepatan dengan waktu turunnya rahmat dan pengabulan doa.
4. Sholat Hajat dan Sholat Sunnah Lainnya

Di sela-sela i’tikaf, seorang Muslim juga diperbolehkan menunaikan sholat hajat ketika memiliki kebutuhan atau harapan tertentu yang ingin dipanjatkan kepada Allah SWT. Sholat ini umumnya dikerjakan dua rakaat, namun sebagian ulama membolehkan hingga dua belas rakaat sesuai keperluan dan kemampuan.
Dalil yang menjadi landasannya adalah sabda Rasulullah SAW:
“Tidaklah seorang hamba melakukan dosa, lalu ia bersuci, sholat dua rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuninya.” (HR. Abu Dawud)
Mazhab Malikiyah menganjurkan sholat hajat dilakukan saat i’tikaf karena waktu tersebut termasuk momen mustajab untuk berdoa. Selain hajat, seseorang juga boleh menambah sholat sunnah lain seperti sholat taubat untuk memohon ampunan, atau dhuha jika i’tikaf dilakukan hingga siang hari.
Rangkaian sholat sunnah ini membuat pelaksanaan sholat i’tikaf menjadi lebih hidup dan bermakna. Inilah yang menjadikan i’tikaf bukan hanya aktivitas berdiam, tetapi perjalanan spiritual yang menenangkan jiwa sekaligus mendekatkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.
Baca Juga: Ini Dia Niat dan Tata Cara I’tikaf yang Benar Sesuai Sunnah
Mari Maksimalkan Ibadah di Bulan Ramadhan dengan I’tikaf dan Tilawah
Memahami pengertian sholat i’tikaf membuat kita sadar bahwa ibadah ini bukan sekadar berdiam di masjid. Lebih dari itu, i’tikaf adalah perjalanan sunyi untuk membersihkan hati, menata ulang niat, dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Setiap dzikir yang terucap, setiap rakaat yang ditegakkan, hingga setiap ayat yang dibaca menjadi jalan mendekat yang begitu personal dan menenangkan.
Karena itulah, kenyamanan saat tilawah menjadi hal penting selama i’tikaf. Mushaf yang mudah dibaca akan sangat membantu menjaga fokus, terlebih ketika ibadah dilakukan dalam waktu yang panjang, terutama di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Al-Qur’an dengan tajwid berwarna, tulisan yang jelas dan rapi, serta terjemah yang memudahkan pemahaman akan membuat interaksi dengan ayat-ayat Allah terasa lebih hidup dan tidak melelahkan mata.
Di sinilah Safwan Quran hadir sebagai sahabat terbaik untuk menemani momen i’tikaf Anda. Dirancang dengan tampilan yang ramah mata, dilengkapi panduan tajwid berwarna, terjemah per kata, serta tanda waqaf yang jelas, mushaf ini membantu tilawah menjadi lebih lancar sekaligus lebih dipahami maknanya. Bukan hanya nyaman dibaca, tetapi juga mendukung kekhusyukan ibadah secara menyeluruh.
Mari maksimalkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah terbaik bersama alquran dari Safwan Quran!


