wasiat nabi muhammad

7 Wasiat Nabi Muhammad Kepada Umatnya, Bekal Dunia Akhirat

Di zaman yang serba cepat dan serba digital seperti sekarang, hidup terasa seperti lomba tanpa garis akhir.

Bangun tidur langsung cek notifikasi, siang dikejar target, malam masih scroll media sosial. Informasi datang bertubi-tubi, opini berseliweran, standar kesuksesan pun seolah ditentukan algoritma. Tanpa sadar, hati jadi mudah lelah dan arah hidup terasa kabur.

Di tengah ritme yang padat ini, setiap Muslim sebenarnya butuh pegangan yang kokoh. Bukan hanya untuk bertahan di dunia yang kompetitif, tapi juga agar tetap selamat menuju akhirat. 

Salah satu bekal terbaik itu adalah wasiat nabi muhammad yang sarat makna dan relevan sepanjang zaman.

Di antara wasiatnya yang paling menyentuh adalah tujuh pesan yang beliau sampaikan kepada Abu Dzar al-Ghifari. 

Menariknya, meski disampaikan lebih dari 14 abad lalu, isi wasiat tersebut justru terasa sangat relevan dengan kehidupan modern hari ini. 

Tentang empati di tengah individualisme, syukur di tengah budaya pamer, keberanian berkata benar di tengah tekanan opini, dan kemandirian di era serba instan.

Mari kita pelan-pelan menyelami tujuh wasiat nabi muhammad ini, dan melihat bagaimana ia bisa menjadi kompas hidup di tengah dunia yang terus bergerak cepat.

Siapa Abu Dzar al-Ghifari?

Sebelum masuk ke inti wasiat dari Nabi muhammad, kita kenalan dulu dengan sosok yang menerima pesan mulia ini.

Nama lengkapnya Jundub bin Junadah dari suku Ghifar. Ia termasuk golongan as-sabiqun al-awwalun, yaitu orang-orang pertama yang masuk Islam. Keislamannya luar biasa berani. Ia bahkan pernah mengumumkan syahadat di depan Ka’bah hingga dipukuli kaum Quraisy.

Abu Dzar dikenal sebagai sahabat yang zuhud, tegas terhadap kezaliman, dan sangat mencintai kebenaran. Karena itulah, wajar jika wasiat nabi muhammad yang disampaikan kepadanya sarat dengan nasihat yang mendalam dan kaya akan hikmah.

Hadits Lengkap Wasiat Rasulullah Kepada Sahabatnya

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ: بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنِّي فِي الدُّنْيَا وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي، وَأَنْ أَصِلَ رَحِيمِي وَإِنْ أَعْرَضُوا عَنِّي، وَأَنْ أَكْثِرَ مِنْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، وَأَنْ أَقُولَ الْحَقَّ وَلَوْ مَرًّا، وَلَا أَخْشَىٰ لَوْمَةَ لَائِمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَأَنْ لَا أَسْأَلَ أَحَدًا شَيْئًا.

Dari Abu Dzar, ia berkata: “Kekasihku (Nabi Muhammad SAW) mewasiatkan kepadaku tujuh perkara: (1) mencintai orang-orang miskin dan mendekat kepada mereka; (2) melihat kepada orang yang lebih rendah dariku dalam urusan duniawi dan tidak melihat kepada orang yang lebih tinggi dariku; (3) menyambung silaturahmi meskipun mereka memalingkan diri dariku; (4) memperbanyak membaca ‘La hawla wala quwwata illa billah’ (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah); (5) mengatakan kebenaran meskipun pahit; (6) tidak takut celaan orang yang mencela dalam urusan jalan Allah; (7) tidak meminta-minta sesuatu pun kepada seorang pun.”

Hadis ini oleh sebagian ulama disebut sebagai “harta karun di bawah ‘Arsy Allah” karena kandungannya yang begitu dalam dan menyentuh seluruh aspek kehidupan. 

Beberapa ahli hadis, termasuk Muhammad Nasiruddin al-Albani, menilai riwayatnya berderajat hasan meskipun terdapat sedikit variasi redaksi dalam jalur periwayatan.

Dengan kualitas riwayat yang baik dan isi yang sangat komprehensif, tujuh wasiat ini menjadi bekal abadi bagi umat Islam dalam menata kehidupan dunia sekaligus mempersiapkan akhirat.

Penjelasan Lengkap Wasiat Nabi Kepada Umatnya

Meski disampaikan secara khusus kepada satu sahabat, kandungan wasiat nabi muhammad ini bersifat umum. Berikut penjelasannya.

1. Cinta kepada Orang Miskin

wasiat nabi muhammad

Wasiat pertama mengajarkan untuk mencintai orang-orang miskin dan mendekat kepada mereka.

Ini bukan sekadar ajakan untuk bersedekah, tetapi membangun empati. Ketika kita dekat dengan kaum dhuafa, hati menjadi lebih lembut dan jauh dari kesombongan. Kita belajar bahwa nilai manusia bukan diukur dari harta, tetapi dari ketakwaannya.

Banyak sahabat mencontohkan hal ini. Umar bin Khattab misalnya, dikenal sangat merakyat. Ia tidak menjaga jarak dengan rakyat kecil. Dari sinilah kita belajar bahwa wasiat ini membentuk karakter pemimpin sekaligus pribadi yang rendah hati.

2. Melihat yang di Bawah dalam Urusan Dunia

wasiat nabi muhammad

Pesan kedua terdengar sederhana, tetapi sangat relevan di era media sosial saat ini. Yakni melihat kepada orang yang berada di bawahmu dalam urusan dunia.

Ketika kita terus membandingkan diri dengan yang lebih kaya, lebih sukses, atau lebih populer, hati mudah gelisah. Rasa syukur perlahan memudar.

Sebaliknya, dengan melihat mereka yang hidupnya lebih sulit, kita akan lebih menghargai nikmat yang ada. Ini melatih qana’ah, merasa cukup atas pemberian Allah.

Namun dalam urusan agama, kita justru dianjurkan melihat kepada yang lebih baik agar termotivasi untuk terus memperbaiki diri. Di sinilah keseimbangan hidup terbentuk.

3. Menyambung Silaturahmi Meski Diputus

wasiat nabi muhammad

Menyambung tali kekerabatan, meskipun pihak lain memilih menjauh atau bersikap kurang baik, adalah bentuk nyata ketaatan kepada perintah Allah. 

Silaturahmi bukan sekadar menjaga komunikasi, melainkan merawat ikatan rahim yang Allah muliakan. Banyak hadis menjelaskan bahwa orang yang gemar menyambung silaturahmi akan dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya dalam keberkahan. Sebaliknya, memutus hubungan kekerabatan dapat menjadi sebab sempitnya rezeki dan hilangnya keberkahan hidup.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” 

Baca Juga: 7 Rahasia Hidup Sehat ala Rasulullah yang Mudah Dipraktikkan

4.  Banyak Melafalkan La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah

wasiat nabi muhammad

Kalimat ini disebut sebagai salah satu perbendaharaan surga.  Ia memiliki makna yang sangat dalam, bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Di saat merasa lelah, gagal, atau kehilangan arah, dzikir ini mengingatkan bahwa semua urusan berada dalam kuasa-Nya. Kita tetap berusaha, tetapi hati bersandar penuh kepada Allah.

Wasiat nabi muhammad ini mengajarkan tawakal yang aktif, bukan pasrah tanpa usaha. Kita bergerak, bekerja, dan berikhtiar, sambil menyadari bahwa hasil akhir ada di tangan-Nya.

5. Mengatakan Kebenaran Meski Pahit

wasiat nabi muhammad

Kejujuran sering kali mahal harganya. Kadang membuat kita tidak disukai, bahkan dijauhi.

Namun Rasulullah SAW menekankan agar tetap mengatakan yang benar walaupun pahit. Ini adalah fondasi integritas seorang Muslim.

Dalam konteks amar ma’ruf nahi mungkar, menyampaikan kebenaran harus tetap dengan hikmah dan cara yang baik. Bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk meluruskan.

6. Tidak Takut Celaan di Jalan Allah

wasiat nabi muhammad

Berjalan di jalan kebaikan tidak selalu mendapat tepuk tangan. Terkadang justru ada sindiran dan cibiran.

Wasiat nabi muhammad ini melatih mental agar tidak goyah oleh komentar manusia. Selama yang dilakukan benar dan sesuai syariat, celaan tidak perlu ditakuti.

Para nabi telah memberi contoh keteguhan luar biasa. Mereka tetap menyampaikan risalah meski ditentang. Dari sini kita belajar bahwa nilai sebuah perjuangan bukan diukur dari pujian, tetapi dari keikhlasan.

7. Tidak Meminta-Minta kepada Manusia

wasiat nabi muhammad

Wasiat nabi muhammad terakhir menekankan kemandirian dan menjaga kehormatan diri.

Rasulullah SAW mengajarkan agar tidak meminta-minta kepada manusia. Bekerja keras, berusaha, dan bertawakal adalah jalan mulia.

Ini bukan berarti menolak bantuan ketika benar-benar membutuhkan, tetapi tidak menjadikan meminta sebagai kebiasaan. Islam ingin umatnya kuat, produktif, dan bermartabat.

Bekal yang Tak Lekang oleh Waktu

Jika dirangkum, tujuh wasiat nabi muhammad ini menyentuh hubungan vertikal dan horizontal sekaligus. Ada empati sosial, ada penguatan spiritual, ada keberanian moral, dan ada kemandirian pribadi.

Semua ini menjadikan wasiat tersebut bukan sekadar nasihat, melainkan fondasi karakter Muslim sejati. Ia relevan di masa lalu, relevan hari ini, dan akan tetap relevan hingga akhir zaman.

Tinggal kita refleksikan dalam diri. Dari tujuh wasiat ini, mana yang paling perlu kita perbaiki mulai hari ini?

Baca Juga: Alquran Diturunkan Kepada Nabi Muhammad Secara Bertahap. Ini Kisahnya

Jadikan Wasiat Nabi Muhammad sebagai Pegangan Hidup

Tujuh wasiat nabi muhammad kepada Abu Dzar al-Ghifari bukan hanya untuk satu sahabat. Pesan itu berlaku untuk seluruh umat Islam hingga hari kiamat. Siapa pun kita, di zaman apa pun kita hidup, nilai-nilainya tetap relevan dan bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Agar semakin mudah menghidupkan pesan-pesan mulia tersebut, mari tetap dekat dengan alquran sebagai sumber utama petunjuk hidup. Pilih mushaf yang bisa membantu membaca dan memahami isi alquran dengan lebih tepat dan nyaman.

Oleh karena itu, Safwan Quran hadir sebagai pilihan yang tepat. Dilengkapi kode warna tajwid, transliterasi Latin per kata, serta tanda waqaf yang jelas, setiap ayat jadi lebih mudah dibaca dan minim kesalahan. Terjemahan Indonesia per kata dan tematik juga membantu memahami makna ayat secara praktis.

Mari hidupkan wasiat nabi Muhammad dengan tilawah bersama alquran terbaik dari Safwan Quran!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top