masjid al-azhar sebelumnya bernama

Masjid Al-Azhar Sebelumnya Bernama Apa? Ini Sejarah Singkatnya

Safwanquran.com – Kalau kamu pernah dengar tentang Masjid Al-Azhar, biasanya yang langsung terbayang adalah pusat ilmu Islam yang besar dan berpengaruh. Tempat yang sudah melahirkan banyak ulama dari berbagai penjuru dunia.

Tapi pernahkah kamu tiba-tiba kepikiran hal sederhana seperti ini masjid al-azhar sebelumnya bernama apa?

Pertanyaan yang terlihat sepele ini, mungkin sering banyak terlintas di pikiran. Apalagi buat kamu yang lagi mulai tertarik dengan sejarah Islam atau sekadar ingin tahu lebih dalam tentang asal-usul masjid yang satu ini.

Nah, daripada terus penasaran, kita bahas bareng-bareng dengan cara yang santai tapi tetap jelas, biar lebih mudah dipahami.

Masjid Al-Azhar Sebelumnya Bernama Apa?

Secara historis, masjid al-azhar sebelumnya bernama apa sebenarnya bukan soal pergantian nama seperti yang sering kita bayangkan sekarang.

Sejak awal dibangun, masjid ini memang sudah dikenal dengan nama Al-Azhar. Nama tersebut diambil dari kata Arab az-Zahrāʾ, yang berarti “yang bersinar”, dan merujuk pada Fatimah az-Zahra, putri dari Nabi Muhammad.

Nama ini bukan dipilih secara sembarangan. Dinasti yang membangun masjid ini, yaitu Dinasti Fatimiyah, menjadikan Fatimah az-Zahra sebagai simbol ideologis mereka. Jadi, bisa dibilang sejak awal berdiri, identitas Masjid Al-Azhar memang sudah kuat dan tidak mengalami perubahan nama resmi.

Awal Pendirian Masjid Al-Azhar

Untuk memahami lebih dalam soal masjid al-azhar sebelumnya bernama apa, kita perlu melihat bagaimana awal mula masjid ini dibangun.

Masjid Al-Azhar didirikan pada tahun 970 M (361 H) oleh Jawhar al-Siqilli, seorang panglima dari Dinasti Fatimiyah. Pembangunan ini dilakukan tidak lama setelah berdirinya kota Kairo sebagai ibu kota baru kekhalifahan.

Saat pertama kali dibangun, ukuran masjid ini hanya sekitar setengah dari ukuran sekarang. Desainnya masih sederhana, terdiri dari halaman terbuka (shahn), ruang shalat di bagian utara, dan beberapa ruangan di sisi kanan dan kiri.

Meski sederhana, dari awal masjid ini sudah punya peran besar, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan.

Fungsi Masjid Al-Azhar 

Masjid Al-Azhar di Kairo pada masa Dinasti Fatimiyah bukan hanya sekadar tempat ibadah biasa. Secara umum, ada lima fungsi utama yang membuat Masjid Al-Azhar begitu berpengaruh dalam aspek keagamaan, sosial, hingga politik.

1. Pusat ibadah dan kegiatan keagamaan

masjid al-azhar sebelumnya bernama

Sebagai masjid utama di Kairo pada masa itu, Al-Azhar menjadi pusat pelaksanaan ibadah, terutama shalat Jumat resmi kerajaan Fatimiyah.

Di sinilah khalifah, pejabat, dan masyarakat berkumpul untuk beribadah bersama. Suasana ini bukan hanya mencerminkan sisi spiritual, tapi juga menunjukkan bagaimana agama dan kekuasaan berjalan beriringan.

2. Pusat pendidikan dan pengajaran ilmu Islam

masjid al-azhar sebelumnya bernama

Seiring waktu, fungsi Al-Azhar berkembang menjadi pusat pendidikan. Para ulama mulai mengajar melalui halaqah-halaqah ilmu yang membahas fiqh, tafsir, hadis, hingga bahasa Arab.

Pada masa Khalifah Al-Aziz Billah, kegiatan belajar mengajar semakin terstruktur. Dari sinilah Al-Azhar perlahan berubah menjadi cikal bakal lembaga pendidikan besar yang kemudian dikenal dunia.

Jadi saat membahas masjid al-azhar sebelumnya bernama apa, kita juga melihat bahwa yang berkembang pesat justru perannya, bukan namanya.

Baca Juga: Alasan Masjid yang Pertama Kali Dibangun Nabi adalah Masjid Quba

3. Pusat dakwah dan penyebaran ajaran

masjid al-azhar sebelumnya bernama

Pada masa awal, Masjid Al-Azhar juga berfungsi sebagai pusat dakwah resmi. Ajaran yang disampaikan saat itu mengikuti ideologi Dinasti Fatimiyah, yaitu Syiah Ismailiyah.

Para ulama memberikan ceramah dan kajian untuk membentuk pemahaman masyarakat sesuai dengan pandangan negara. Meski begitu, seiring berjalannya waktu, fungsi dakwah ini terus berkembang dan menyesuaikan dengan perubahan zaman.

Hal ini semakin menegaskan bahwa ketika orang bertanya masjid al-azhar sebelumnya bernama apa, sebenarnya yang lebih menarik adalah bagaimana peran masjid ini terus berubah dan meluas.

4. Pusat aktivitas sosial masyarakat

masjid al-azhar sebelumnya bernama

Selain digunakan untuk beribadah dan menuntut ilmu, Al-Azhar juga berfungsi sebagai ruang berkumpul bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. Mulai dari ulama, pedagang, hingga masyarakat umum.

Di area masjid, sering terjadi diskusi santai, pertukaran informasi, hingga interaksi sosial yang memperkuat hubungan antarwarga. Masjid pada masa itu benar-benar menjadi pusat kehidupan sehari-hari.

Jadi, bukan hanya soal masjid al-azhar sebelumnya bernama apa, tapi juga bagaimana masjid ini menjadi “rumah besar” bagi masyarakat Kairo.

5. Pusat kegiatan politik dan hukum

masjid al-azhar sebelumnya bernama

Fungsi lain yang cukup menarik adalah perannya dalam bidang politik dan hukum. Pada masa Fatimiyah, Al-Azhar sering digunakan sebagai tempat pertemuan penting.

Khalifah dan para hakim (qadi) berkumpul untuk membahas berbagai urusan negara, termasuk keputusan hukum. Ini menunjukkan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat pengambilan keputusan penting.

Transformasi Menjadi Universitas

Seiring berjalannya waktu, pembahasan tentang masjid al-azhar sebelumnya bernama apa mulai bergeser ke peran besarnya dalam dunia pendidikan.

Masjid ini berkembang menjadi lembaga pendidikan formal yang kemudian dikenal sebagai Universitas Al-Azhar.

Al-Azhar bahkan disebut sebagai salah satu universitas tertua di dunia, setelah Universitas al-Qarawiyyin di Maroko.

Pada masa berikutnya, terutama saat pemerintahan Mamluk dan Kesultanan Ottoman, Al-Azhar mengalami penguatan sebagai pusat keilmuan Sunni. Kurikulumnya mencakup berbagai disiplin ilmu seperti:

  • Tafsir
  • Hadis
  • Fiqh
  • Ushul fiqh
  • Bahasa Arab
  • Logika (manthiq)

Dari sinilah Al-Azhar mulai dikenal sebagai rujukan utama dunia Islam.

Perkembangan Arsitektur yang Unik

Selain sejarahnya, Masjid Al-Azhar juga terkenal dengan keindahan arsitekturnya.

Karena mengalami banyak renovasi dari berbagai dinasti, bentuk asli masjid sudah banyak berubah. Justru hal ini yang membuatnya unik, karena menjadi semacam “pameran hidup” seni Islam dari berbagai era.

Beberapa bagian penting yang menarik:

  • Gerbang utama (Bab al-Muzayyinin) yang dibangun oleh Sultan Qait Bey
  • Madrasah al-Aqbughawiyyah dan ath-Thaibarsiyyah
  • Halaman luas (shahn) yang dikelilingi lengkungan khas
  • Lima menara dengan gaya arsitektur berbeda
  • Beberapa mihrab dan kubah dengan ukiran kaligrafi indah

Semua elemen ini mencerminkan perjalanan panjang sejarah Al-Azhar dari masa ke masa.

Peran Al-Azhar di Era Modern

Hingga sekarang, Masjid Al-Azhar dan Universitasnya tetap menjadi salah satu pusat otoritas Islam dunia.

Melalui Grand Syaikh Al-Azhar dan lembaga fatwanya, Al-Azhar terus berperan dalam memberikan panduan keagamaan bagi umat Islam global.

Menariknya lagi, banyak pelajar dari berbagai negara, termasuk Indonesia, pernah dan masih menuntut ilmu di sini. Bahkan, banyak pesantren dan kampus Islam di Indonesia yang menjadikan Al-Azhar sebagai rujukan utama.

Baca Juga: Masjid Nabawi Adalah Masjid Kedua dalam Islam. Ini Faktanya

Belajar Sejarah, Mendekatkan Diri pada Al-Qur’an

Mengetahui masjid al-azhar sebelumnya bernama apa dan sejarah singkatnya, bukan hanya dapat menambah wawasan, tapi juga mengingatkan kita betapa pentingnya ilmu dalam Islam. Dari sebuah masjid, lahir peradaban, pendidikan, dan generasi ulama besar.

Kalau semangat belajar ini ingin kamu lanjutkan, salah satu langkah paling sederhana adalah mulai lebih dekat dengan Al-Qur’an.

Kalau kamu sedang mencari mushaf yang nyaman dibaca, Safwan Quran bisa jadi pilihan yang layak dipertimbangkan. Tampilannya jelas, enak di mata, dan cocok untuk dibaca dalam waktu lama tanpa cepat lelah.

Menariknya lagi, ada fitur kode warna tajwid yang membantu kamu membaca dengan lebih baik, terutama kalau masih dalam tahap belajar. Jadi bukan sekadar membaca, tapi juga memperbaiki kualitas bacaan secara bertahap.

Dari sisi keakuratan juga sudah melalui proses tashih resmi oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama RI, jadi lebih tenang saat digunakan.

Karena pada akhirnya, belajar sejarah Islam itu bagus. Tapi akan terasa lebih lengkap kalau dibarengi dengan kebiasaan membaca dan memahami Al-Qur’an setiap hari. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top