Safwanquran.com – Peperangan Mu’tah terjadi karena pembunuhan utusan Rasulullah, al-Harits bin Umair al-Azdi, oleh Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani, seorang penguasa yang berada di bawah pengaruh Kekaisaran Bizantium. Peristiwa inilah yang memicu Rasulullah mengirim pasukan ke wilayah Mu’tah, di Syam, pada Jumadal Ula tahun 8 H atau sekitar 629 M.
Bagi kamu yang sedang mempelajari sirah nabawiyah atau tertarik dengan sejarah Islam di masa awal, Peperangan Mu’tah termasuk salah satu peristiwa penting yang sayang untuk dilewatkan.
Peristiwa ini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah peperangan, tetapi juga menyimpan banyak pelajaran berharga bagi kehidupan. Mari kita bahas secara ringkas dan runtut, mulai dari penyebabnya hingga hikmah yang bisa dipetik.
Sekilas Tentang Perang Mu’tah
Perang Mu’tah adalah pertempuran antara pasukan Muslim dengan pasukan yang didukung Kekaisaran Bizantium atau Romawi Timur. Lokasinya berada di daerah Mu’tah, yang saat ini diperkirakan masuk wilayah Yordania. Peristiwa ini terjadi pada Jumadal Ula tahun 8 Hijriah, atau sekitar tahun 629 Masehi.Meski terjadi jauh dari Madinah, Peperangan Mu’tah membawa pengaruh besar terhadap perkembangan sejarah Islam.
Menariknya, Peperangan Mu’tah tidak muncul begitu saja. Ada rangkaian peristiwa yang melatarbelakanginya, dan hal itulah yang akan kita telusuri satu per satu.
Latar Belakang yang Lebih Luas
Selain kasus pembunuhan al-Harits, sebenarnya sudah ada ketegangan lain yang lama membara di wilayah perbatasan Syam. Beberapa utusan atau orang Muslim juga sempat mengalami gangguan di sana. Hal ini cukup wajar mengingat wilayah tersebut berada dalam pengaruh kuat Bizantium dan menjadi jalur strategis yang menghubungkan Jazirah Arab dengan wilayah utara.
Setelah Perjanjian Hudaibiyah disepakati, Rasulullah juga semakin aktif mengirim surat dan utusan ke berbagai penguasa untuk memperkenalkan Islam. Terbunuhnya utusan di Mu’tah kemudian menjadi semacam sinyal bahwa dakwah Islam mulai berhadapan langsung dengan kekuatan politik besar di luar Jazirah Arab.
Dengan demikian, Peperangan Mu’tah bukan semata-mata soal wilayah, melainkan soal keselamatan utusan dan ancaman yang mengintai kaum Muslimin di perbatasan.
Bagaimana Kronologinya?
Agar lebih mudah dipahami, berikut rangkaian peperangan mu’tah secara singkat:
- Utusan dibunuh – al-Harits bin Umair al-Azdi tewas di tangan Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani saat menjalankan tugas dakwah.
- Pasukan dikirim – Rasulullah mengirim sekitar 3.000 sahabat menuju Mu’tah, meski beliau sendiri tidak ikut turun ke medan perang.
- Tiga panglima ditetapkan – Zaid bin Haritsah sebagai panglima pertama, disusul Ja’far bin Abi Thalib, lalu Abdullah bin Rawahah jika keduanya gugur.
- Mengetahui kekuatan lawan – Di Ma’an, pasukan Muslim mendapat kabar bahwa jumlah pasukan Bizantium dan sekutunya jauh lebih besar. Setelah bermusyawarah, mereka tetap memutuskan melanjutkan perjalanan.
- Pertempuran pecah – Meski kalah jumlah, pasukan Muslim tetap bertempur dengan gigih di Mu’tah.
- Tiga panglima gugur – Zaid, Ja’far, lalu Abdullah bin Rawahah gugur secara berurutan sebagai syahid.
- Khalid bin al-Walid mengambil alih – Ia menyusun ulang strategi pasukan pada malam hari sehingga musuh mengira ada bala bantuan datang.
- Pasukan mundur teratur – Berkat strategi Khalid, pasukan Muslim berhasil kembali ke Madinah tanpa mengalami kehancuran total.
Siapa Saja Tokoh Pentingnya?
Dalam Peperangan Mu’tah, ada beberapa nama yang perlu diketahui. Dari pihak Muslim, terdapat Zaid bin Haritsah sebagai panglima pertama, Ja’far bin Abi Thalib yang merupakan sepupu Nabi sekaligus saudara Ali bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah yang dikenal piawai bersyair. Ketiganya gugur sebagai syuhada dalam pertempuran ini.
Selanjutnya ada Khalid bin al-Walid, sosok yang mengambil alih komando setelah tiga panglima gugur. Berkat kecerdikannya menata ulang pasukan, ia berhasil membawa pulang pasukan Muslim dengan selamat. Karena jasanya inilah, Rasulullah kemudian memberinya gelar “Saifullah” atau Pedang Allah.
Sementara itu, dari sisi pemicu perang, terdapat al-Harits bin Umair al-Azdi sebagai utusan yang dibunuh, dan Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani sebagai pelaku pembunuhan tersebut.
Di pihak lawan, pasukan terdiri dari gabungan Bizantium dan sekutu Arab Ghassan, meski sumber sejarah berbeda-beda mengenai siapa komandan lapangan mereka.
Bagaimana Hasil Akhirnya?
Apakah kaum Muslimin menang dalam Peperangan Mu’tah? Jawabannya tidak sesederhana menang atau kalah.
Pasukan Muslim memang tidak berhasil menaklukkan wilayah Mu’tah, tetapi mereka berhasil melakukan penarikan diri secara teratur di tengah kepungan pasukan yang jauh lebih besar.
Banyak sejarawan menyebutnya sebagai kemenangan taktis, karena yang menjadi ukuran bukan penguasaan wilayah, melainkan keberhasilan menyelamatkan pasukan dari kehancuran total.
Yang jelas, peristiwa ini meninggalkan jejak penting. Yaitu, tiga panglima gugur sebagai syuhada, kepemimpinan Khalid bin al-Walid semakin diakui, dan perhatian umat Islam terhadap wilayah Syam mulai terbuka lebar setelahnya.
Hikmah Dari Perang Mu’tah
Bagian ini menjadi salah satu yang paling penting dari kisah Peperangan Mu’tah, karena banyak pelajaran hidup yang bisa diterapkan dalam keseharian.
1. Menjaga amanah dan kehormatan

Kisah al-Harits mengajarkan betapa Islam sangat menghargai keselamatan utusan dan kejujuran dalam menyampaikan pesan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa amanah, kepercayaan, dan penghormatan terhadap perjanjian antarkelompok adalah hal yang dijaga betul dalam Islam.
Dalam kehidupan sehari-hari, hikmah ini mengingatkan agar seseorang tidak mengkhianati kepercayaan atau menyalahgunakan jabatan yang diembannya.
2. Pentingnya rencana suksesi kepemimpinan

Rasulullah sudah menyiapkan tiga nama panglima secara berurutan sebelum pasukan berangkat, yaitu Zaid bin Haritsah, disusul Ja’far bin Abi Thalib, lalu Abdullah bin Rawahah.
Berkat kesiapan ini, pasukan tidak kehilangan arah ketika ketiga panglima gugur satu per satu. Ini menjadi pelajaran berharga dalam organisasi, keluarga, maupun tempat kerja, agar tidak menumpuk seluruh tanggung jawab pada satu orang saja dan selalu menyiapkan rencana darurat sebelum masalah terjadi.
Baca Juga: Kisah Amr Bin Ash, Musuh Jadi Panglima yang Dihormati!
3. Keberanian harus disertai strategi

Pasukan Muslim tetap berani menghadapi lawan, tetapi keberanian mereka tidak berarti bertindak tanpa perhitungan. Setelah tiga panglima gugur, Khalid bin al-Walid menyusun kembali barisan dan melakukan penarikan pasukan secara teratur.
Mundur secara teratur bukan tanda pengecut, melainkan dapat menjadi keputusan bijak untuk menjaga kekuatan yang lebih besar agar perjuangan tidak berakhir dengan kehancuran.
4. Kemuliaan tidak dilihat dari nasab

Zaid, Ja’far, dan Abdullah memiliki latar belakang berbeda, mulai dari status sebagai anak angkat Nabi, keluarga terhormat Quraisy, hingga kalangan Anshar, tetapi semuanya dipercaya memimpin berdasarkan kemampuan dan keimanan, bukan status sosial.
Hikmah ini mengajarkan bahwa seseorang seharusnya dinilai dari ketakwaan, amanah, dan kompetensinya, bukan dari asal-usul atau kedudukan keluarganya.
5. Pengorbanan dan persatuan sangat penting

Zaid, Ja’far, dan Abdullah bin Rawahah tetap menjalankan tanggung jawabnya meskipun mengetahui bahwa keadaan perang sangat berat. Setelah mereka gugur, pasukan tetap solid mengikuti pemimpin baru, yaitu Khalid bin al-Walid.
Perjuangan yang besar membutuhkan keikhlasan, kesabaran, dan kesediaan mendahulukan kepentingan bersama, namun tetap dalam koridor yang benar dan tidak menjadi ajakan untuk bertindak nekat.
Pada intinya, Peperangan Mu’tah mengajarkan bahwa hasil perjuangan tidak selalu diukur dari kemenangan yang tampak secara lahiriah, melainkan dari kemampuan mempertahankan prinsip dan mengambil keputusan yang bijaksana.
Baca Juga: Strategi Perang Mutah dan Keajaiban di Medan Tempur
Mengambil Hikmah Lewat Al-Qur’an
Belajar dari kisah Peperangan Mu’tah, kita dapat memahami bahwa perjuangan, amanah, dan kesabaran merupakan nilai yang terus relevan sepanjang zaman. Salah satu cara terbaik untuk memperdalam pemahaman ini adalah dengan rutin membaca dan merenungi Al-Qur’an. Mari mulai kebiasaan membaca Al-Qur’an bersama Safwan Quran, dan temukan lebih banyak hikmah dari kisah-kisah perjuangan umat terdahulu.


