Apa Itu Mufassir

Apa Itu Mufassir? Ini Pengertian & Perannya dalam Ilmu Tafsir

Safwanquran.com- Saat membaca Alquran, mungkin kamu pernah bertanya-tanya, bagaimana para ulama bisa menjelaskan makna ayat yang begitu dalam, padat, dan kadang terasa sulit dipahami? Di sinilah peran mufassir menjadi sangat penting. Lewat tangan dan ilmunya, ayat-ayat Al-Qur’an bisa dipahami dengan lebih jernih, utuh, dan sesuai dengan maksud Allah SWT.

Lalu sebenarnya, apa itu mufassir? Apa saja syaratnya, dan mengapa perannya begitu krusial dalam kehidupan umat Islam? Mari kita pelajari lebih lanjut di artikel ini.

Apa Itu Mufassir?

Secara sederhana, mufassir adalah ahli tafsir Alquran. Ia adalah orang yang memiliki kemampuan mendalam untuk menjelaskan makna ayat-ayat suci Al-Qur’an secara benar, akurat, dan sesuai dengan syariat Islam.

Jika ditinjau dari sisi kebahasaan, istilah mufassir berasal dari kata Arab fassara yang bermakna menjelaskan, menguraikan, atau menafsirkan suatu makna. Jadi, mufassir bisa dipahami sebagai orang yang melakukan penafsiran.

Dalam pengertian syar’i, mufassir bukan sekadar orang yang pandai berbicara tentang ayat. Ia adalah sosok yang memahami maksud Allah SWT melalui berbagai ilmu penunjang, seperti bahasa Arab, hadis Nabi, asbabun nuzul (sebab turunnya ayat), hingga kaidah fikih dan ushul fikih. Semua itu menjadi bekal utama agar tafsir yang disampaikan tidak melenceng dari wahyu.

Mengapa Mufassir Dibutuhkan dalam Memahami Al-Qur’an?

Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang sangat kaya makna. Satu kata bisa memiliki banyak nuansa, tergantung konteks, susunan kalimat, dan sebab turunnya ayat. Tanpa panduan, seseorang bisa saja menafsirkan ayat secara keliru, bahkan bertentangan dengan maksud aslinya.

Di sinilah mufassir hadir sebagai penjaga makna. Mereka membantu umat memahami pesan ilahi secara utuh, tidak sepotong-sepotong, apalagi mengikuti hawa nafsu pribadi. Karena itu, membahas apa itu mufassir tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab besar yang mereka emban.

Syarat Menjadi Mufassir Alquran

Setelah paham apa itu mufassir, selanjutnya kita belajar tentang syarat menjadi mufassir alquran. Menjadi mufassir Alquran bukanlah perkara sederhana. Dibutuhkan perpaduan antara ilmu keislaman yang mendalam, kemampuan bahasa Arab yang kuat, serta akhlak yang mulia agar penafsiran tetap selaras dengan wahyu ilahi. 

Karena itulah, para ulama besar seperti Imam As-Suyuthi dan Manna’ al-Qaththani merinci syarat-syarat mufassir secara komprehensif demi menjaga kemurnian makna Al-Qur’an.

Secara umum, syarat utama seorang mufassir meliputi aqidah yang lurus, terbebas dari hawa nafsu, serta penguasaan berbagai ilmu penunjang seperti bahasa Arab dan asbabun nuzul. Semua ini menjadi pondasi agar tafsir tidak menyimpang dari maksud Allah SWT.

  • Syarat Akhlak dan Aqidah

Aqidah yang sehat adalah fondasi utama seorang mufassir. Ia harus memiliki keyakinan yang benar dan bersih dari kepentingan pribadi, fanatisme mazhab, atau dorongan hawa nafsu yang bisa memengaruhi penafsiran ayat.

Selain itu, pemahaman agama secara menyeluruh juga sangat diperlukan. Seorang mufassir idealnya menguasai ilmu tauhid, memahami prinsip-prinsip syariat, serta memiliki adab dalam menuntut dan menyampaikan ilmu. Tanpa akhlak yang baik, ilmu yang luas justru berpotensi menyesatkan.

  • Penguasaan Ilmu Bahasa Arab

Bahasa Al-Qur’an memiliki kedalaman makna yang luar biasa. Karena itu, mufassir wajib menguasai berbagai cabang ilmu bahasa Arab, seperti:

  • Nahwu dan sharaf untuk memahami struktur dan perubahan kata
  • Isytiqaq untuk mengetahui asal-usul makna
  • Ilmu ma’ani, bayan, dan badi’ untuk menangkap keindahan dan nuansa bahasa
  • Ilmu qira’at untuk memahami perbedaan bacaan Al-Qur’an

Tanpa penguasaan bahasa Arab yang memadai, penafsiran sangat rentan terhadap kesalahan. Padahal, satu kata dalam Al-Qur’an bisa memiliki makna yang berbeda tergantung konteks dan susunannya.

Ilmu Tafsir Pendukung yang Harus Dikuasai

Selain bahasa dan akhlak, mufassir juga dituntut menguasai ilmu-ilmu pendukung tafsir, di antaranya:

  • Menafsirkan ayat dengan ayat lain (tafsir Al-Qur’an bil Qur’an)
  • Menggunakan sunnah Nabi SAW serta pendapat sahabat dan tabi’in
  • Mengetahui asbabun nuzul, nasikh dan mansukh, ushul fiqh, serta fikih
  • Memiliki ilmu mauhibah, yaitu karunia pemahaman dari Allah yang lahir dari ketakwaan dan keikhlasan

Perlu dipahami, syarat-syarat ini bersifat bertahap. Tidak semuanya wajib untuk penafsiran ayat tertentu secara parsial. Namun, untuk menafsirkan Al-Qur’an secara menyeluruh dan mendalam, syarat-syarat tersebut menjadi sangat esensial.

Peran Penting Mufassir dalam Kehidupan Umat

Membahas apa itu mufassir tidak bisa dilepaskan dari perannya yang sangat krusial dalam Islam. Mufassir adalah penjaga kemurnian makna Al-Qur’an yang bertugas menjembatani pesan ilahi dengan realitas kehidupan umat. Berikut peran lengkapnya

 1. Menjaga Makna Asli Al-Qur’an

apa itu mufassirUntuk memahami apa itu mufassir, kita perlu melihat bagaimana mereka menjaga keaslian pesan Allah. Mufassir menjelaskan ayat-ayat yang sulit, simbolis, atau terkesan ambigu dengan merujuk Al-Qur’an itu sendiri, sunnah Nabi SAW, pendapat para sahabat, serta asbabun nuzul. Pendekatan ini membantu menjaga keselarasan antar-ayat dan mencegah tafsir yang terlalu subjektif atau dipengaruhi hawa nafsu pribadi.

Baca Juga: Wajib Tahu! Inilah 3 Keistimewaan Al quran yang Menakjubkan!

2. Menghubungkan Tafsir dengan Konteks Zaman

apa itu mufassirSalah satu jawaban penting dari pertanyaan apa itu mufassir adalah kemampuannya mengaitkan Al-Qur’an dengan perkembangan zaman. Berbekal penguasaan bahasa Arab, hadis, fiqh, dan sejarah Islam, mufassir menyampaikan tafsir secara kontekstual agar Al-Qur’an tetap menjadi pedoman hidup di tengah tantangan modern, tanpa mengubah esensi ajarannya. 

Mufassir kontemporer seperti Fazlur Rahman, misalnya, menggunakan pendekatan rasional-historis untuk menekankan nilai-nilai universal Al-Qur’an seperti keadilan dan kemanusiaan.

3. Mewariskan Ilmu Tafsir kepada Generasi Selanjutnya

apa itu mufassirKetika membahas apa itu mufassir, kita juga berbicara tentang perannya dalam mewariskan ilmu. Para mufassir menuangkan pemahamannya dalam karya-karya tafsir yang menjadi rujukan lintas generasi. Tokoh seperti Imam Al-Suyuthi dan Ibnu Taimiyyah tidak hanya menafsirkan ayat, tetapi juga membentuk metodologi tafsir yang kokoh.

Perbedaan Mufassir Klasik dan Kontemporer

Mufassir klasik umumnya menitikberatkan penafsiran pada pendekatan tekstual berbasis riwayat, yang dikenal sebagai tafsir ma’tsur. Dalam metode ini, penjelasan ayat sangat bergantung pada Al-Qur’an, hadis Nabi, pendapat para sahabat, serta tabi’in.

 Sebaliknya, mufassir kontemporer cenderung menggunakan pendekatan tematik (maudhu’i), kontekstual, dan interdisipliner agar pesan Al-Qur’an tetap relevan dengan realitas kehidupan modern.

Perbedaan pendekatan ini tampak jelas dalam cara memahami dan menerapkan ayat. Mufassir klasik lebih menekankan pemaknaan literal dan kesinambungan tradisi keilmuan, sementara mufassir kontemporer berusaha mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, termasuk ilmu sosial dan pendekatan hermeneutika, untuk menangkap pesan moral dan tujuan utama ayat.

Sebagai contoh, dalam menafsirkan ayat tentang perempuan pada Surah An-Nisa ayat 34, mufassir klasik seperti Ath-Thabari dalam Tafsir Jami’ al-Bayan memahami istilah “qawwamun” secara tekstual sebagai bentuk keunggulan atau kepemimpinan laki-laki atas perempuan, berdasarkan riwayat sahabat. Penafsiran ini melahirkan pemahaman yang bersifat hierarkis.

Sementara itu, mufassir kontemporer seperti Muhammad Abduh dalam Tafsir al-Manar atau Fazlur Rahman melihat ayat tersebut secara lebih kontekstual. Mereka memaknainya sebagai bentuk tanggung jawab dalam keluarga yang lahir dari kondisi sosial masyarakat patriarkal pada masa turunnya ayat, dengan penekanan pada prinsip kesetaraan hak dan kewajiban dalam konteks kehidupan modern.

Baca Juga: 5 Nama Penghafal Alquran Dari Kalangan Sahabat Rasulullah

Saatnya Dekat dengan Alquran

Memahami apa itu mufassir membuat kita semakin sadar bahwa Alquran bukan kitab yang boleh ditafsirkan sembarangan. Ada ilmu, adab, dan amanah besar di balik setiap penjelasan ayat. 

Namun, semua itu berawal dari satu langkah sederhana, yaitu membaca Alquran secara rutin. 

Jika kamu ingin memulai atau menguatkan kebiasaan membaca Alquran, pastikan menggunakan mushaf yang nyaman dibaca dan jelas tulisannya. Kamu bisa mendapatkan Alquran berkualitas di Safwan Quran, yang menyediakan berbagai pilihan mushaf sesuai kebutuhan, dari pemula hingga pembaca rutin.

Yuk, luangkan waktu setiap hari untuk membaca Al-Qur’an. Karena dari sanalah cahaya ilmu, ketenangan hati, dan petunjuk hidup bermula.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top