Berdzikir Hendaknya Dilakukan dengan Rasa, Ini Keutamaannya
Berdzikir hendaknya dilakukan dengan rasa. Kalimat ini mungkin sering kita dengar saat mengikuti kajian atau membaca buku tentang keutamaan dzikir. Namun, apa sebenarnya maksud dari berdzikir dengan rasa? Apakah cukup hanya mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, atau istighfar berkali-kali, atau ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar gerakan lisan?
Dalam Islam, dzikir bukan hanya aktivitas mengucapkan kalimat-kalimat pujian kepada Allah. Dzikir adalah ibadah yang melibatkan hati, pikiran, dan lisan sekaligus. Ketika hati ikut hadir, setiap kalimat dzikir akan lebih bermakna, menenangkan jiwa, sekaligus memperkuat hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Apa Maksud Berdzikir Hendaknya Dilakukan dengan Rasa?
Secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Sementara dalam istilah syariat, dzikir adalah mengingat Allah dengan menyebut nama-Nya, memuji-Nya, mensucikan-Nya, serta merenungkan kebesaran dan nikmat-Nya.
Karena itu, berdzikir hendaknya dilakukan dengan rasa, yakni menghadirkan hati saat melafalkan setiap bacaan. Dzikir tidak berhenti pada lisan, tetapi juga dihayati sehingga mampu menyentuh qalbu dan memengaruhi sikap dalam kehidupan sehari-hari.
Saat mengucapkan Subhanallah, misalnya, kita tidak hanya mengulang sebuah lafaz. Kita juga menyadari bahwa Allah Mahasuci dari segala kekurangan. Ketika membaca Alhamdulillah, hati ikut mengingat begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan. Begitu pula saat mengucapkan Allahu Akbar, kita meyakini bahwa kebesaran Allah jauh melampaui segala persoalan yang sedang dihadapi.
Dengan kata lain, dzikir yang disertai rasa akan menghadirkan cinta kepada Allah, rasa syukur, harapan akan rahmat-Nya, sekaligus rasa takut terhadap murka-Nya. Inilah bentuk dzikir yang lebih hidup dan jauh dari sekadar rutinitas.
Mengapa Berdzikir Harus Disertai Penghayatan?
Tidak sedikit orang yang mampu menghafal berbagai bacaan dzikir. Namun, jika hati tidak ikut mengingat Allah, manfaat dzikir bisa terasa kurang maksimal.
Para ulama menjelaskan bahwa hakikat dzikir adalah menghadirkan hati bersama Allah. Imam Al-Ghazali menerangkan bahwa dzikir merupakan upaya mengarahkan perhatian manusia kepada Allah dan kehidupan akhirat. Artinya, hati menjadi pusat dari aktivitas dzikir tersebut.
Hal ini juga dijelaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan lahir dari hati yang berdzikir, bukan sekadar lisan yang mengucapkannya. Oleh sebab itu, berdzikir hendaknya dilakukan dengan rasa agar hati benar-benar memperoleh ketenangan yang dijanjikan Allah.
Sebaliknya, jika dzikir dilakukan tanpa memahami makna maupun menghadirkan hati, ibadah tersebut berisiko berubah menjadi kebiasaan yang diucapkan secara otomatis. Lisan bergerak, tetapi hati tetap lalai.
Unsur-Unsur Rasa dalam Dzikir
Agar dzikir lebih bermakna, ada beberapa unsur yang perlu dihadirkan.
- Pertama, fokus kepada Allah.Saat berdzikir, usahakan memusatkan perhatian kepada Allah dan mengesampingkan sejenak urusan dunia. Arahkan perhatian hanya kepada Allah sebagai Zat yang sedang kita ingat.
- Kedua, memahami makna bacaan. Meski hanya membaca dzikir yang pendek, memahami artinya akan membuat hati lebih mudah tersentuh.
- Ketiga, menghadirkan rasa syukur, cinta, takut, dan harap. Perasaan-perasaan inilah yang menjadi ruh dalam setiap dzikir sehingga ibadah terasa lebih hidup.
- Keempat, menjaga kekhusyukan. Dzikir yang dilakukan dengan tenang akan lebih mudah menghadirkan ketenteraman dibandingkan dzikir yang dilakukan tergesa-gesa.
Keutamaan Berdzikir dengan Rasa
Berdzikir hendaknya dilakukan dengan rasa, yaitu menghadirkan hati saat mengingat Allah, bukan sekadar menggerakkan lisan. Ketika setiap kalimat dzikir dihayati dengan penuh kesadaran, manfaatnya akan lebih terasa dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa keutamaan yang dapat diperoleh.
1. Hati Menjadi Tenang dan Tenteram

Salah satu keutamaan terbesar dari dzikir adalah menghadirkan ketenangan hati. Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan sejati lahir dari hati yang mengingat Allah. Karena itu, berdzikir hendaknya dilakukan dengan rasa, yakni dengan menghadirkan rasa syukur, cinta, takut, dan harap kepada Allah agar ketenangan tersebut benar-benar dapat dirasakan.
2. Mendatangkan Keridhaan Allah dan Menumbuhkan Cinta kepada-Nya

Dzikir yang dilakukan dengan penuh penghayatan menjadi salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dzikir dapat mengundang keridhaan Allah, menumbuhkan cinta kepada-Nya, dan mengantarkan seorang hamba menuju derajat ihsan. Karena itu, berdzikir hendaknya dilakukan dengan rasa agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh hati.
Oleh sebab itu, berdzikir hendaknya dilakukan dengan rasa, bukan sekadar menghitung jumlah bacaan. Ketika hati ikut mengingat Allah, hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya akan semakin kuat dan penuh keikhlasan.
Baca Juga: Manfaat Zikir Subhanallah Walhamdulillah Wala Ilaha Illallah Wallahu Akbar
3. Mengusir Kegelisahan dan Mengisi Hati dengan Kebahagiaan

Dzikir yang dihayati mampu mengusir rasa sedih, gelisah, dan gundah.Sebaliknya, dzikir yang dihayati dapat membuat hati lebih tenang, lapang, dan optimis menghadapi berbagai keadaan.
Manfaat ini akan lebih terasa apabila berdzikir hendaknya dilakukan dengan rasa, sehingga setiap kalimat yang diucapkan benar-benar menjadi pengingat bahwa Allah selalu dekat dan menjadi tempat bergantung dalam setiap keadaan.
4. Menguatkan Hati serta Memberikan Cahaya dalam Kehidupan

Para ulama juga menyebutkan bahwa dzikir dapat menguatkan hati dan badan, sekaligus menghadirkan cahaya pada hati maupun wajah seorang mukmin.
Ketika berdzikir dilakukan dengan rasa, seseorang akan lebih siap menghadapi berbagai ujian hidup. Hatinya menjadi lebih kokoh, tidak mudah putus asa, dan senantiasa yakin bahwa setiap ketentuan Allah mengandung hikmah terbaik.
5. Mendatangkan Keberkahan Rezeki dan Manisnya Iman

Keutamaan lain dari dzikir adalah menjadi sebab datangnya keberkahan rezeki serta membuat seorang muslim merasakan manisnya iman. Orang yang terbiasa mengingat Allah akan lebih mudah bersyukur, bertawakal, dan percaya bahwa segala rezeki berasal dari-Nya.
Karena itu, hendaknya berdzikir dilakukan dengan rasa agar setiap bacaan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga menjadi sarana memperkuat keyakinan kepada Allah.
Cara Agar Berdzikir Lebih Menghadirkan Rasa
Menghadirkan hati saat berdzikir membutuhkan latihan. Mulailah dengan meluruskan niat karena Allah, lalu pahami makna setiap bacaan agar tidak sekadar menjadi ucapan di lisan.
Bacalah dzikir dengan perlahan dan penuh penghayatan, tanpa terburu-buru mengejar jumlah. Pilih waktu yang tenang, seperti setelah salat, pagi, petang, atau sebelum tidur, agar lebih mudah khusyuk.
Selain itu, kaitkan setiap bacaan dengan kondisi diri. Misalnya, saat mengucapkan Alhamdulillah, ingatlah nikmat yang telah Allah berikan. Ketika membaca Astaghfirullah, hadirkan penyesalan atas dosa dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan cara ini, dzikir akan terasa lebih hidup dan bermakna.
Baca Juga: Manfaat dan Cara Dzikir Subhanallah Wabihamdihi yang Benar
Berdzikir dan Tilawah, Dua Ibadah yang Saling Menguatkan
Dzikir dan tilawah Al-Qur’an adalah dua amalan yang saling melengkapi. Membaca Al-Qur’an membantu hati lebih mudah menghayati dzikir, sementara dzikir menjaga hati tetap dekat dengan firman Allah. Karena itu, luangkan waktu setiap hari untuk memperbanyak tilawah dan dzikir secara istiqamah.
Pada akhirnya, berdzikir hendaknya dilakukan dengan rasa, bukan hanya di lisan, tetapi juga dengan hati yang hadir dan penuh penghayatan. Dengan begitu, hati menjadi lebih tenang, iman semakin kuat, dan hubungan dengan Allah semakin erat.
Untuk mendukung kebiasaan tersebut, gunakan Safwan Quran yang dilengkapi tajwid berwarna, terjemahan, dan berbagai fitur penunjang agar membaca Al-Qur’an sekaligus berdzikir menjadi lebih nyaman dan bermakna.


