Safwanquran.com – Sebagai makhluk sosial, setiap hari pasti kita bertemu banyak orang dengan karakter unik yang berbeda-beda, Entah di jalan, pasar, atau di kantor. Tak jarang, di antara milyaran manusia, kita pasti akan menjumpai orang yang kelihatannya ramah, sangat baik, tapi ternyata menyimpan maksud tersembunyi. Itulah yang disebut dengan licik.
Licik merupakan sikap penuh tipu daya dan kepura-puraan. Dalam alquran, terdapat berbagai dalil tentang licik, membuktikan bahwa islam mengingatkan kita untuk tidak berlaku demikian. Untuk lebih lengkapnya, mari kita pelajari bersama arti licik, dalil dan bahayanya bagi umat islam.
Makna Sifat Licik dalam Pandangan Islam
Dalam Islam, sifat licik berarti menggunakan akal untuk tujuan buruk, seperti menipu, berbohong, dan memanipulasi demi kepentingan diri sendiri tanpa memperdulikan kejujuran atau kebaikan. Orang licik cenderung menyakiti orang lain, haus akan kekuasaan atau harta, dan sering menghalalkan segala cara untuk ambisinya.
Melalui berbagai dalil tentang licik, Allah memperingatkan bahwa perilaku tipu daya dan curang membawa siksa dan menjauhkan seseorang dari iman serta kasih sayang sesama. Sifat licik juga membuat seseorang hanya mendekati orang lain saat butuh dan melupakan budi baik. Karena itu, Islam mendorong kita mengganti kelicikan dengan kejujuran, amanah, dan keikhlasan dalam setiap interaksi.
Dalil tentang Licik dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an memberikan penjelasan tegas tentang sifat licik dan bahayanya melalui beberapa ayat. Salah satunya terdapat dalam Surat Al-Muthaffifin (83), yang menekankan larangan berbuat curang, terutama dalam takaran dan timbangan.
Surat Al-Muthaffifin ayat 1-3 menyebutkan:
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (١) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (٢) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (٣)
“Celakalah orang-orang yang curang, yaitu mereka yang apabila menerima takaran dari orang lain meminta dipenuhi, tetapi ketika menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3)
Dalil tentang licik ini memberikan peringatan keras bagi siapa pun yang bersikap licik dan merugikan orang lain, terutama dalam urusan jual beli. Perbuatan seperti ini tidak hanya merugikan manusia, tetapi juga mendapat siksaan pedih di hari kiamat.
Begitu pula dalam Surat Al-Baqarah ayat 188:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan cara yang batil, dan janganlah kamu membawa perkara itu kepada hakim supaya bisa memakan sebagian harta orang lain dengan dosa, padahal kamu mengetahuinya.” (Qs. Al Baqarah:188)
Ayat ini menegaskan bahwa licik tidak hanya terbatas pada menipu atau berbuat curang secara langsung, tapi juga termasuk manipulasi hukum demi keuntungan pribadi. Secara keseluruhan, ayat tersebut menunjukkan bahwa sifat licik, seperti menipu dengan tipu daya, dan berbuat curang itu sangat dikecam dalam Islam.
Melalui berbagai dalil tentang licik, kita diingatkan untuk menjauhi perilaku ini, karena kejujuran dan keadilan tidak hanya menjaga hubungan antar manusia, tetapi juga menjadi bekal untuk akhirat.
Dalil tentang Licik dalam Hadis Nabi SAW
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ: “مَا
هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ؟” قَالَ: أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: “أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ، مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي”.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya dan mendapati bagian dalamnya basah. Beliau bertanya, “Apa ini, wahai pemilik makanan?” Pemiliknya menjawab, “Makanan ini terkena hujan, wahai Rasulullah.” Rasulullah pun bersabda, “Mengapa tidak kau letakkan di bagian atas agar orang-orang dapat melihatnya? Barang siapa berbuat curang, maka ia bukan dari golonganku.”
Dalil tentang licik ini menjadi peringatan tegas bahwa segala bentuk kecurangan dan kelicikan, sekecil apapun, dilarang dalam Islam. Rasulullah menegaskan bahwa orang yang menipu atau menyembunyikan kebenaran bukan termasuk umat beliau.
Sikap licik dan menipu menunjukkan hati yang tidak jujur dan jauh dari nilai keimanan. Sebaliknya, seorang Muslim sejati selalu menjunjung kejujuran, amanah, dan keterbukaan dalam setiap urusan, karena itulah cerminan akhlak yang diridhai Allah SWT.
Bahaya Sifat Licik bagi Seorang Muslim
Melalui berbagai dalil tentang licik, kita diajak untuk memahami betapa berbahayanya sifat ini bagi ketenangan batin dan kedekatan kepada Allah SWT.
1. Hati Gelisah dan Tak Tenang

Orang yang licik tidak akan pernah merasakan ketenangan. Hatinya selalu diliputi rasa takut dan waswas karena hidupnya penuh kebohongan. Allah berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya, dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10)
Ayat ini menjadi dalil tentang licik yang mengingatkan bahwa perilaku curang membawa azab dan kegelisahan, bukan kedamaian.
2. Hilangnya Keikhlasan dalam Beribadah

Kelicikan sering lahir dari niat yang tidak tulus, misalnya beribadah demi pujian atau keuntungan duniawi. Padahal Allah hanya menerima amal yang dilakukan karena-Nya.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Orang yang licik beribadah tanpa keikhlasan sejati. Ibadahnya kehilangan ruh, karena hatinya tidak benar-benar tertuju kepada Allah.
3. Pahala Amal Bisa Hilang

Allah menilai amal bukan dari banyaknya, tapi dari keikhlasannya. Sifat licik mencemari amal baik dan membuat pahala hilang sia-sia.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menipu, maka ia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim)
Hadis ini menjadi dalil tentang licik yang tegas, bahwa setiap tipu daya akan menghapus nilai amal dan menjauhkan dari Rasulullah.
Baca Juga: Wajib Tahu! Ini cara mengevaluasi diri sendiri dalam Islam
4. Menumbuhkan Riya’ dan Kemunafikan

Sifat licik menumbuhkan riya’, yaitu beribadah demi dilihat orang. Ini adalah salah satu ciri kemunafikan yang sangat dibenci Allah.
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka…” (QS. An-Nisa: 142)
Orang yang berbuat licik pada dasarnya menipu dirinya sendiri, karena Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di hati.
5. Menjauhkan dari Allah SWT

Ibadah yang dilakukan dengan kelicikan tidak akan mendekatkan pelakunya kepada Allah. Hati yang kotor sulit menerima hidayah dan rahmat-Nya.
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal dari hati yang lalai dan berpaling.” (HR. Ahmad)
Sifat licik menutup pintu kedekatan dengan Allah karena membuat seseorang lebih mencintai dunia daripada kebenaran.
6. Mengurangi Keberkahan Ibadah

Setiap amalan yang dilakukan dengan tipu daya kehilangan keberkahannya. Rezeki dan pahala pun tidak bertahan lama.
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil…” (QS. Al-Baqarah: 188)
Ayat ini memperingatkan agar tidak mencari keuntungan dengan cara curang, karena keberkahan hidup akan hilang.
7. Merusak Tatanan Sosial dan Spiritual

Sifat licik tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga menimbulkan kerusakan sosial. Masyarakat kehilangan rasa saling percaya dan tumbuh rasa benci.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang licik tidak mungkin memiliki cinta dan empati sejati, karena pikirannya hanya dipenuhi tipu daya dan kepentingan diri.
Baca Juga: Dalil Tentang Fasik dan Bahayanya Bagi Iman Seorang Muslim
Jadilah Muslim yang Jujur dan Bersih dari Tipu Daya
Dari pelbagai dalil tentang licik yang telah kita pelajari dalam alquran dan hadits, Allah mengingatkan kita bahwa perbuatan licik bukanlah perbuatan buruk sederhana yang dibiarkan saja.
Karena ia bisa menjadi racun yang perlahan merusak hati, melemahkan iman, dan memutus tali silaturahmi antar manusia. Orang yang licik mungkin tampak sukses untuk sementara waktu, tapi kebohongan tidak akan bertahan lama.
Maka dari itu, latihlah diri kita untuk bisa menjadi muslim yang jujur, amanah dan tidak berbuat licik dengan senantiasa menjadikan alquran sebagai pedoman hidup. Sempurnakan proses menjadi muslim yang taat bersama alquran ternyaman dari safwan quran.
Safwan quran tersedia dalam berbagai ukuran dan tipe yang dilengkapi dengan fitur tajwid berwarna, transliterasi Latin, panduan makhorijul huruf, dan QR code interaktif untuk video pembelajaran. Selain itu, safwan quran juga dapat dikirim ke seluruh pelosok negeri.


