Safwanquran.com – Ramadhan menjadi bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh umat islam seluruh dunia. Kehadirannya memberikan kedamaian, semangat beribadah dan sarana untuk lebih dekat kepada Allah.
Sebagai rukun Islam keempat, banyak dalil yang menjelaskan keutamaannya, termasuk hadits-hadits pendek yang ringkas namun sarat makna.
Melalui hadits pendek tentang puasa Ramadhan, kita bisa memahami bagaimana Islam memandang puasa bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai jalan menuju ketakwaan.
Hadits Pendek Tentang Puasa Ramadhan yang Sarat Makna
Berikut tujuh hadits shahih lengkap dengan makna dan penjelasan ulama.
1. Puasa untuk Allah

كُلُ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Terjemah:
“Setiap amal anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari & Muslim, dari Abu Hurairah)
Hadits pendek tentang puasa Ramadhan ini menunjukkan keistimewaan puasa dibanding ibadah lain. Dalam penjelasannya di Syarh Sahih Muslim, Imam Nawawi menjelaskan bahwa puasa adalah ibadah paling tersembunyi. Tidak ada yang benar-benar tahu seseorang berpuasa kecuali Allah.
Sementara Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menambahkan, puasa memiliki pahala tanpa batas karena menggabungkan kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri. Inilah sebabnya puasa disebut sebagai ibadah yang langsung Allah balas.
2. Puasa sebagai Perisai

الصَّوْمُ جُنَّةٌ
Terjemah:
“Puasa itu adalah perisai.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Kalimatnya sangat singkat, namun maknanya luas. Menurut Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lataif al-Ma’arif, perisai di sini berarti pelindung dari dosa dan api neraka.
Puasa melatih seseorang menahan amarah, syahwat, dan ucapan buruk. Jika dijalani dengan benar, ia menjadi benteng dari maksiat. Inilah salah satu hikmah terdalam dari hadits pendek tentang puasa Ramadhan: ibadah ini bukan hanya menahan makan, tapi juga menjaga perilaku.
3. Mulai Puasa dengan Rukyatul Hilal

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ…
Terjemah:
“Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Jika tertutup, sempurnakan Syaban 30 hari.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Hadits ini menjadi dasar penentuan awal Ramadhan. Imam Nawawi menjelaskan bahwa rukyat (melihat hilal) adalah metode utama, sementara hisab boleh digunakan dalam kondisi tertentu.
Penjelasan ini menunjukkan bahwa syariat Islam memadukan ibadah dengan keteraturan sosial. Bahkan, Ibn Hajar al-Asqalani menekankan pentingnya mengikuti keputusan otoritas agar umat tetap bersatu dalam memulai puasa.
4. Kewajiban Puasa Ramadhan

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ … وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun atas lima perkara … dan puasa Ramadhan.”
(HR. Bukhari & Muslim, dari Ibn Umar)
Hadits ini menegaskan posisi puasa sebagai rukun Islam. Artinya, ia bukan ibadah tambahan, tetapi fondasi utama agama.
Para ulama menjelaskan bahwa kewajiban puasa berlaku bagi muslim yang baligh, berakal, dan mampu. Dengan memahami hadits pendek tentang puasa Ramadhan ini, kita diingatkan bahwa meninggalkan puasa tanpa uzur adalah pelanggaran serius dalam syariat.
Baca Juga: Mengapa Kita Harus Sahur Meski Tidak Lapar? Ini Hikmahnya
5. Pengampunan Dosa Lewat Puasa

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ…
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Hadits pendek tentang puasa Ramadhan ini sering menjadi motivasi terbesar umat Islam. Siapa pun tentu ingin dosanya diampuni.
Menurut Imam Nawawi, syaratnya ada dua: iman (meyakini kewajiban puasa) dan ihtisab (ikhlas mengharap pahala). Tanpa keikhlasan, pahala puasa bisa berkurang.
Sementara Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ampunan ini mencakup dosa kecil. Adapun dosa besar tetap membutuhkan taubat khusus.
6. Puasa Ramadhan dan Syawal

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ…
“Siapa berpuasa Ramadhan lalu diikuti enam hari Syawwal, seperti puasa setahun.”
(HR. Muslim, dari Abu Ayyub al-Ansari)
Hadits ini menunjukkan kesinambungan ibadah setelah Ramadhan. Puasa tidak berhenti di satu bulan saja.
Perhitungan pahalanya dijelaskan oleh Ibn Rajab al-Hanbali: satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Ramadhan setara 10 bulan, ditambah Syawwal 2 bulan, genap setahun.
Ini menegaskan bahwa hadits pendek tentang puasa Ramadhan tidak hanya bicara kewajiban, tapi juga peluang pahala lanjutan.
7. Ramadhan sebagai Pengkafarat Dosa

رَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ…
“Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa di antara keduanya selama menjauhi dosa besar.” (HR. Muslim)
Hadits ini memberi harapan besar bagi setiap muslim. Setiap Ramadhan adalah kesempatan membersihkan diri.
Menurut Imam Nawawi, amal rutin seperti puasa, shalat, dan Jumat berfungsi sebagai pembersih dosa kecil. Namun syaratnya, dosa besar harus dijauhi.
Maknanya sangat dalam: Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, tapi momentum reset spiritual.
Hikmah Besar dari Hadits-Hadits Puasa
Jika dirangkum, setiap hadits pendek tentang puasa Ramadhan sebenarnya saling melengkapi dalam menggambarkan betapa luasnya makna ibadah ini.
Puasa mengajarkan keikhlasan, karena ia dilakukan diam-diam hanya antara hamba dan Allah. Tidak ada yang benar-benar tahu kecuali diri sendiri dan Sang Pencipta. Dari sini lahir kejujuran iman yang paling dalam.
Di saat yang sama, puasa juga menjadi perisai diri. Ia menahan seseorang dari amarah, ucapan buruk, hingga dorongan maksiat. Bukan sekadar menahan lapar, tetapi menjaga sikap dan perilaku.
Puasa juga melatih ketaatan pada syariat. Mulai dari mengikuti rukyat hilal, menjalankan waktu sahur dan berbuka, hingga disiplin terhadap aturan yang telah ditetapkan. Semua ini membentuk pribadi yang patuh dan teratur.
Sebagai bagian dari rukun Islam, puasa menegaskan posisinya sebagai fondasi utama agama. Ia bukan ibadah tambahan, melainkan kewajiban yang menguatkan bangunan keislaman seseorang.
Keindahan lainnya, puasa menjadi jalan ampunan dosa. Setiap Ramadhan membuka kesempatan baru untuk membersihkan kesalahan masa lalu, selama dijalani dengan iman dan penuh harap pada pahala Allah.
Bahkan, pahala puasa tidak berhenti di satu bulan. Dengan menambah puasa Syawwal, ganjarannya bisa bernilai seperti puasa setahun penuh. Ini menunjukkan betapa luasnya kemurahan Allah bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
Pada akhirnya, Ramadhan menjadi momentum pembersihan jiwa. Dari satu Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, seorang muslim diberi ruang untuk terus memperbaiki diri, memperkuat iman, dan memperhalus hati.
Semua makna ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang menyentuh seluruh sisi kehidupan, baik lahir maupun batin.
Baca Juga: Persiapan Menyambut Ramadhan agar Lebih Produktif & Bermakna
Lengkapi Puasa dengan Tilawah Al-Qur’an
Memahami hadits pendek tentang puasa Ramadhan akan terasa lebih sempurna jika dibarengi dengan amalan lain, terutama membaca Al-Qur’an. Ramadhan adalah bulan turunnya wahyu, sehingga puasa dan tilawah adalah dua ibadah yang saling menguatkan.
Membaca Al-Qur’an setiap hari selama Ramadhan membantu menjaga hati tetap hidup, lisan tetap terjaga, dan pahala terus mengalir.
Maka, agar tilawah semakin nyaman, memilih mushaf yang jelas, mudah dibaca, dan membantu memahami tajwid tentu menjadi langkah yang bijak.
Safwan Quran hadir sebagai salah satu pilihan mushaf yang dirancang untuk menemani ibadah harian.
Dilengkapi tajwid berwarna yang membantu membaca lebih tepat, panduan waqaf, rasm Utsmani 15 baris yang familiar, serta terjemah per kata yang memudahkan pemahaman, Safwan Quran dirancang agar tilawah terasa lebih lancar dan nyaman.
Tidak berhenti di mushaf cetak, Safwan Quran juga terhubung dengan fitur digital pendukung seperti aplikasi hafalan, audio murottal, pengingat tilawah, hingga program khatam.
Alquran dari Safwan Quran, bukan sekadar Al-Qur’an untuk dibaca, tetapi menjadi partner ibadah harian yang praktis, efektif, dan relevan menemani kebutuhan keluarga Muslim masa kini.
Yuk, miliki sekarang juga!


