orang yang bangkrut di akhirat

Siapa Orang yang Bangkrut di Akhirat? Ini Dalil & Penjelasannya

Safwanquran.com – Orang yang bangkrut di akhirat adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa banyak pahala, tetapi pahala tersebut habis karena ia pernah menzalimi orang lain. 

Rasulullah menjelaskan bahwa orang tersebut memiliki amal seperti shalat, puasa, dan zakat, tetapi juga memiliki banyak kesalahan kepada sesama manusia, seperti mencela, memfitnah, mengambil harta, menyakiti, atau menumpahkan darah.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah menyebut orang seperti ini sebagai al-muflis, yaitu orang yang benar-benar bangkrut. 

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “bangkrut” dalam hadits tersebut dan mengapa seseorang bisa mengalami kerugian sebesar itu di akhirat? 

Siapa Orang yang Bangkrut di Akhirat?

Penjelasan tentang orang yang bangkrut di akhirat terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat:

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”

Para sahabat menjawab bahwa orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki dirham maupun harta.

Namun, Rasulullah  kemudian memberikan penjelasan yang berbeda. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun, ia juga datang setelah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain…”
(HR. Muslim no. 2581)

Pahala orang tersebut kemudian diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Jika pahalanya sudah habis, sedangkan tuntutan masih ada, dosa orang-orang yang menjadi korbannya akan dibebankan kepadanya. Inilah gambaran kerugian yang sangat besar di akhirat.

Apa Arti Bangkrut dalam Hadis Ini?

Bangkrut dalam kehidupan sehari-hari biasanya berarti kehilangan harta atau tidak mampu memenuhi kewajiban. Namun, makna bangkrut dalam hadis ini berkaitan dengan kerugian amal di akhirat.

Seseorang mungkin terlihat memiliki banyak bekal berupa shalat, puasa, zakat, dan amal kebaikan lainnya. Akan tetapi, ia juga membawa persoalan dengan manusia karena pernah melakukan kezaliman.

Bentuk kezaliman tersebut dapat berupa:

  • Ghibah, yaitu membicarakan keburukan orang lain.
  • Fitnah atau buhtan, yaitu menyampaikan tuduhan yang tidak benar.
  • Mengambil harta orang lain secara zalim.
  • Menyakiti orang lain, baik melalui perkataan maupun perbuatan.
  • Menumpahkan darah atau melakukan kekerasan terhadap orang lain.

Di hari kiamat, setiap perbuatan akan diperhitungkan. Hak manusia yang belum diselesaikan tidak bisa dianggap sepele. 

Karena itu, orang yang bangkrut di akhirat bukan berarti orang yang tidak pernah beribadah, melainkan orang yang amalnya menjadi tidak berarti karena kezaliman yang dilakukan kepada sesama.

Mengapa Hadis Ini Penting Dipahami?

Hadis tentang orang yang bangkrut di akhirat mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah harus berjalan bersama akhlak yang baik kepada manusia.

Rajin shalat dan puasa tentu merupakan amal yang sangat penting. Namun, jangan sampai ibadah tersebut berjalan berdampingan dengan kebiasaan mencela, memfitnah, mengambil hak orang lain, atau menyakiti sesama.

Islam tidak hanya mengajarkan hubungan seorang hamba dengan Allah, tetapi juga mengatur bagaimana seseorang memperlakukan orang di sekitarnya.

Hadis ini juga menunjukkan keadilan Allah. Tidak ada hak manusia yang hilang begitu saja. Apa yang pernah dilakukan kepada orang lain akan dipertanggungjawabkan, sehingga setiap orang perlu berhati-hati dalam perkataan dan perbuatannya.

Cara Menghindari Bangkrut di Akhirat

Setelah mengetahui tentang makna hadits orang yang bangkrut di akhirat, tentu kita perlu melakukan evaluasi diri. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa mulai diterapkan.

1. Jaga Lisan dari Ghibah dan Fitnah

orang yang bangkrut di akhirat

Lisan sering menjadi sumber masalah karena perkataan yang dianggap sepele ternyata bisa menyakiti orang lain. Menjaga ucapan menjadi salah satu langkah penting agar kita tidak termasuk orang yang bangkrut di akhirat akibat menzalimi sesama melalui perkataan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, biasakan untuk berpikir sebelum berbicara. Jangan sampai ucapan yang kita anggap sepele justru menyakiti hati orang lain. Jika tidak ada hal baik yang perlu disampaikan, memilih diam sering kali menjadi pilihan yang lebih bijak.

2. Segera Selesaikan Hak Orang Lain

orang yang bangkrut di akhirat

Jika pernah merasa mengambil hak orang lain, memiliki utang, merugikan, atau menyakiti seseorang, jangan biarkan masalah tersebut berlarut-larut. 

Selama masih diberi kesempatan hidup, kita bisa berusaha meminta maaf, memperbaiki kesalahan, dan mengembalikan hak yang menjadi tanggungan kita. 

Sebab, urusan dengan sesama manusia bukan hanya soal meminta ampun kepada Allah, tetapi juga tentang kesungguhan kita untuk memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan.

Baca Juga: Ahli Surga Adalah Orang yang Memiliki Ciri Ini, Sudah Tahu?

3. Tunaikan Zakat dan Perbanyak Sedekah

orang yang bangkrut di akhirat

Zakat merupakan kewajiban bagi seorang Muslim yang memenuhi syarat. Menunaikannya berarti menjalankan perintah Allah sekaligus memenuhi hak yang telah ditetapkan dalam harta.

Selain zakat, biasakan pula bersedekah sesuai kemampuan. Namun, sedekah tidak berarti menggantikan kewajiban mengembalikan hak orang yang pernah kita zalimi.

4. Perbanyak Istighfar dan Taubat

orang yang bangkrut di akhirat

Manusia tidak luput dari kesalahan. Karena itu, jangan merasa terlambat untuk memperbaiki diri.

Perbanyak istighfar dan lakukan taubat dengan sungguh-sungguh. Jika dosa berkaitan dengan orang lain, taubat juga perlu diiringi dengan usaha memperbaiki kesalahan dan menyelesaikan hak yang belum ditunaikan.

5. Perbaiki Akhlak dalam Kehidupan Sehari-hari

orang yang bangkrut di akhirat

Menghindari menjadi orang yang bangkrut di akhirat tidak cukup hanya dengan memperbanyak ibadah. Kita juga perlu membangun akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Mulailah dari hal sederhana, seperti berlaku adil kepada keluarga, menjaga amanah, menghormati tetangga, tidak merugikan rekan kerja, dan menghindari kebiasaan merendahkan orang lain.

Semakin baik hubungan kita dengan Allah, seharusnya semakin baik pula sikap kita kepada sesama.

Baca Juga: Pengertian Jati Diri & Pentingnya bagi Kehidupan di Era Modern

Jaga Amal dengan Akhlak

Hadis tentang orang yang bangkrut di akhirat menjadi pengingat agar kita tidak hanya sibuk mengumpulkan pahala, tetapi juga menjaga pahala tersebut dari perkara yang dapat menghilangkannya.

Karena itu, sesekali luangkan waktu untuk mengevaluasi diri. Bukan hanya bertanya sudah berapa banyak amal yang dilakukan, tetapi juga apakah masih ada hak orang lain yang belum diselesaikan.

Membaca Al-Qur’an secara rutin dapat menjadi salah satu cara untuk terus belajar tentang akhlak, kesabaran, kejujuran, dan cara memperlakukan sesama manusia. Al-Qur’an bukan sekadar dibaca, tetapi juga menjadi petunjuk yang berusaha kita terapkan dalam kehidupan.

Jika ingin membangun kebiasaan membaca Al-Qur’an, memilih mushaf yang nyaman dan mendukung proses belajar tentu bisa membantu.

Safwan Quran menghadirkan mushaf dengan tampilan yang nyaman untuk dibaca serta fitur yang membantu pembaca memahami dan memperbaiki bacaan Al-Qur’an. Salah satunya adalah kode warna tajwid yang memudahkan mengenali aturan bacaan, terutama bagi yang masih belajar.

Mushaf ini juga dilengkapi terjemah per kata standar Kementerian Agama RI, serta panduan yang membantu pembaca mempelajari makhraj dan waqaf. 

Proses tashihnya dilakukan secara resmi melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama RI.

Mari luangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, merenungkan maknanya dengan alquran terbaik dari Safwan Quran!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top