Safwanquran.com – Pernahkah kamu bertanya, dari mana sih asal-usul ibadah qurban yang kita kenal sekarang? Atau kenapa kita harus menyembelih hewan saat Idul Adha? Yuk, kita bahas sejarah singkat tentang qurban dari awal mulanya hingga menjadi bagian dari syariat Islam yang kita jalankan hari ini.
Secara bahasa, kata qurban berasal dari bahasa Arab Qariba-Yaqrabu-Qurbanan yang berarti “dekat”. Dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ketaatan dan pengorbanan. Jadi, esensi qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tapi lebih dari itu, ia adalah bentuk cinta dan kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya.
Qurban Sudah Ada Sejak Zaman Nabi Adam AS
Tidak sedikit orang mengira bahwa sejarah singkat tentang qurban bermula dari kisah Nabi Ibrahim AS. Padahal, jauh sebelum itu, praktik mempersembahkan kurban sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS dan pelakunya adalah dua putranya, Habil dan Qabil.
Habil seorang peternak, Qabil seorang petani. Keduanya diperintahkan mempersembahkan kurban sebagai wujud ketakwaan. Habil memberikan hewan ternak yang paling gemuk dan terbaik, penuh keikhlasan. Qabil? Ia memberikan hasil kebun yang seadanya dan kurang baik kualitasnya.
Hasilnya sudah bisa ditebak: Allah menerima kurban Habil, tapi tidak menerima kurban Qabil. Kisah ini langsung mengajarkan satu pelajaran penting, yang dinilai Allah bukan nilai materi dari apa yang kita berikan, tapi keikhlasan dan niat di baliknya. Ini menjadi fondasi awal dari konsep qurban dalam sejarah umat manusia.
Titik Balik Besar Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS
Inilah inti dari sejarah singkat tentang qurban yang paling banyak dikenal umat Islam. Meski praktik persembahan sudah ada sejak zaman Adam AS, syariat qurban yang kita jalankan sekarang berakar kuat dari peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.
Bayangkan situasinya seperti ini. Setelah bertahun-tahun mendamba keturunan, akhirnya Ibrahim dikaruniai seorang putra. Belum lama menikmati kebahagiaan itu, Allah memberikan ujian yang maha berat. Memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih putranya sendiri.
Yang luar biasa adalah respons keduanya. Baik Ibrahim maupun Ismail menerima perintah Allah dengan penuh keikhlasan. Saat Ibrahim siap melaksanakannya, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba sebagai tebusannya. Peristiwa monumental inilah yang menjadi landasan utama ibadah qurban dalam Islam. Simbol ketundukan mutlak kepada kehendak Allah SWT.
Kisah ini bukan hanya tentang pengorbanan fisik, tapi tentang keberanian melepaskan sesuatu yang paling kita cintai demi Allah.
Qurban di Masa Nabi Muhammad SAW, Jadi Syariat Resmi
Melanjutkan sejarah singkat tentang qurban, pada masa Nabi Muhammad SAW ibadah ini ditetapkan secara resmi sebagai bagian dari syariat Islam. Landasan hukumnya ada di Al-Qur’an, tepatnya Surah Al-Kautsar ayat 3, yang memerintahkan umat Islam untuk mendirikan shalat dan berkurban.
Rasulullah SAW sendiri rutin melaksanakan qurban, baik untuk dirinya maupun keluarganya, pernah berqurban dengan kambing, pernah juga dengan sapi. Tradisi mulia ini terus dilestarikan umat Islam setiap tanggal 10 Dzulhijjah pada hari raya Idul Adha, hingga hari ini.
Dari sejarah tentang qurban ini, kita bisa melihat benang merah yang panjang: dari zaman Adam, berlanjut ke Ibrahim, hingga disempurnakan di masa Muhammad SAW. Setiap era menegaskan satu hal yang sama, bahwa qurban adalah bentuk cinta dan kepatuhan kepada Allah.
5 Hikmah Besar di Balik Ibadah Qurban
Setelah memahami sejarah singkat tentang qurban, sekarang kita masuk ke bagian yang tidak kalah penting, yaitu apa sih hikmah besar yang bisa kita ambil dari ibadah yang sarat makna ini?
1. Bukti Nyata Ketakwaan kepada Allah SWT

Salah satu hikmah terdalam yang bisa kita petik dari sejarah singkat tentang qurban adalah bahwa ibadah ini merupakan manifestasi nyata dari ketakwaan seorang hamba. Yang dinilai oleh Allah bukanlah fisik hewan yang disembelih, melainkan keikhlasan dan ketulusan niat di baliknya. Sebagaimana firman Allah:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamu-lah yang dapat mencapainya” (QS. Al-Hajj: 37).
2. Meneladani Ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail

Setiap kali kita berqurban, kita sedang mengenang dan meneladani dua sosok luar biasa. Kesediaan mereka untuk taat sepenuhnya kepada perintah Allah, bahkan ketika itu berarti pengorbanan yang sangat besar adalah contoh paling nyata dari cinta tak bersyarat kepada Sang Pencipta.
3. Menyucikan Jiwa (Tazkiyatun Nafs)

Qurban melatih kita untuk tidak terlalu terikat pada harta duniawi. Dengan merelakan hewan ternak terbaik, kita sedang melatih hati untuk ikhlas berbagi dan menjauhkan diri dari sifat kikir, egois, dan materialisme yang bisa merusak karakter seorang Muslim.
Baca Juga: Tasyrik Artinya Apa? Ini Penjelasan dan Hukumnya dalam Islam
4. Mempererat Solidaritas dan Kepedulian Sosial

Daging qurban dibagikan kepada masyarakat, terutama mereka yang kurang mampu. Ini bukan sekadar ritual, tapi instrumen nyata untuk mempererat persaudaraan, menumbuhkan kasih sayang, dan menciptakan keadilan dalam distribusi rezeki di tengah masyarakat.
5. Meraih Pahala dan Keridhaan Allah yang Berlimpah

Menelusuri sejarah singkat tentang qurban, kita bisa melihat bahwa ibadah ini bukan hanya warisan tradisi. Ia adalah amalan yang sangat dicintai Allah pada hari Idul Adha dan memiliki keutamaan besar di sisi-Nya.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak Adam di hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu dan kukunya” (HR. Tirmidzi).
Qurban Bukan Sekadar Ritual
Dari seluruh penjelasan di atas, kita bisa melihat bahwa sejarah singkat tentang qurban bukan hanya cerita masa lalu yang selesai dibaca lalu dilupakan.
Ia adalah perjalanan panjang yang mengajarkan kita tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kedekatan dengan Allah.
Setiap kali Idul Adha datang, sebenarnya itu adalah pengingat. Pengingat bahwa hidup ini bukan hanya tentang memiliki, tapi juga tentang memberi.
Baca Juga: Inilah Makna Qurban Secara Bahasa dan Dalam Kehidupan Muslim
Saatnya Mendekatkan Diri
Memahami sejarah singkat tentang qurban seharusnya membuat kita tidak lagi melihat ibadah ini sebagai rutinitas tahunan semata. Tapi sebagai momen untuk memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Salah satu cara terbaik untuk menjaga hati tetap dekat dengan Allah adalah dengan rutin membaca Al-Qur’an. Dari sanalah kita belajar makna hidup, keikhlasan, dan arah yang benar.
Kalau kamu ingin mulai atau memperbaiki kebiasaan membaca Al-Qur’an, memilih mushaf yang nyaman juga penting. Safwan Quran bisa jadi pilihan yang tepat.
Dengan kualitas cetakan yang jelas dan tahan lama, membaca jadi lebih nyaman. Ditambah fitur kode warna tajwid yang memudahkan, bahkan untuk pemula. Dan yang paling penting, sudah melalui proses tashih resmi dari LPMQ Kemenag RI, jadi keakuratannya tidak perlu diragukan lagi.
Yuk, jadikan momen ini bukan hanya tentang qurban, tapi juga tentang kembali lebih dekat dengan Al-Qur’an. Karena dari situlah semua kebaikan bermula.


