Safwanquran.com – Makam Rasulullah di Masjid Nabawi terletak di dalam ruang yang dikenal sebagai Hujrah, yaitu bekas kamar Sayyidah Aisyah RA, berada di bagian tenggara masjid tepat di bawah Kubah Hijau yang ikonik.
Di ruang inilah Nabi Muhammad SAW dimakamkan bersama dua sahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA. Bagi umat Islam, ziarah ke tempat ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan momen yang sarat makna dan penuh keberkahan.
Nah, supaya lebih paham dan siap ketika suatu saat berkesempatan berziarah ke sana, mari kita bahas lebih lengkap soal sejarah, lokasi, hingga adab-adab yang perlu diperhatikan.
Nama dan Sejarah Makam Rasulullah
Makam Rasulullah di Masjid Nabawi dikenal dengan sebutan Hujrah, atau lengkapnya Al-Hujrah asy-Syarifah yang berarti Ruang Suci. Penyebutan ini bukan tanpa alasan, sebab lokasi makam Nabi memang awalnya merupakan kamar pribadi Sayyidah Aisyah RA, istri beliau. Di kamar itulah Rasulullah dimakamkan setelah wafat pada tahun 632 M.
Secara bahasa, hujrah dalam bahasa Arab berarti kamar atau ruangan tertutup. Pada masa itu, bentuknya sangat sederhana, hanya dibangun dari tanah liat dengan atap daun kurma, sesuai model hunian yang umum di Madinah.
Karena kamar Aisyah letaknya berdampingan langsung dengan Masjid Nabawi, ketika Rasulullah wafat, beliau pun dimakamkan di tempat tersebut. Hal ini sesuai sunnah yang berlaku, yaitu seseorang dimakamkan di lokasi wafatnya.
Sekitar abad ke-8 M, ketika Umar bin Abdul Aziz memimpin, dilakukan perubahan besar pada area tersebut. Sebagian bangunan hujrah dibongkar agar dapat dimasukkan ke dalam perluasan Masjid Nabawi.
Meski demikian, posisi makam Rasulullah di Masjid Nabawi tetap berada di ruang aslinya, yang kini dikenal berada tepat di bawah Kubah Hijau yang ikonik tersebut.
Awalnya, makam Rasulullah SAW tampak sederhana tanpa bangunan atau penanda yang menonjol.
Namun demi menjaga kehormatan dan keamanannya, dibangunlah dinding pelindung, terutama pada masa al-Ubaidiy sekitar tahun 408 H, untuk mencegah upaya perusakan atau penggalian.
Selain itu, para khalifah seperti Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan turut memperluas area di sekitarnya agar peziarah lebih mudah berkunjung.
Kini, area hujrah dikelilingi pagar kuningan berlapis emas dan dinding marmer yang megah. Karena kemuliaannya, tempat ini juga sering disebut Rawdah Mutahharah, yang berarti ruang yang disucikan.
Sebutan ini menjadi bentuk penghormatan atas kedudukannya yang sangat istimewa dalam sejarah Islam.
Di Mana Sebenarnya Lokasi Makam Rasulullah?
Bila ditanya lebih spesifik, di mana sebenarnya makam Rasulullah di Masjid Nabawi ini berada? Jawabannya, tepat di dalam kompleks Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. Lokasinya persis di bagian tenggara masjid, di bawah kubah hijau yang menjadi ciri khas dan mudah dikenali dari kejauhan.
Menariknya, area ini dahulu bukan bagian dari masjid, melainkan kamar tempat tinggal Aisyah RA. Namun seiring perluasan Masjid Nabawi dari masa ke masa, area hujrah akhirnya menyatu ke dalam bangunan masjid tanpa mengubah posisi makam sedikit pun.
Di dalam ruang ini, terdapat tiga sosok yang dimakamkan, yaitu Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA di sisi kanan Nabi, dan Umar bin Khattab RA di samping Abu Bakar. Posisi ketiganya sejajar, dengan kepala menghadap arah kiblat, sesuai tradisi pemakaman dalam Islam.
Adab-Adab Penting Saat Berziarah
Berziarah ke makam Rasulullah di Masjid Nabawi bukan sekadar kunjungan biasa. Terdapat adab khusus yang dianjurkan para ulama agar ziarah terasa lebih khusyuk, sesuai sunnah, dan penuh keberkahan.
1. Persiapan Sebelum Ziarah

Sebelum menuju area makam, dianjurkan untuk mandi sunnah terlebih dahulu, kemudian mengenakan pakaian yang paling bersih dan wangi. Hal ini sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat suci ini.
Saat berziarah, tanamkan niat karena Allah SWT dan perbanyak sholawat sebagai bentuk ibadah dan penghormatan kepada Rasulullah SAW, bukan sekadar mengunjungi tempat bersejarah atau memenuhi rasa penasaran.
2. Saat Masuk Masjid Nabawi

Dahulukan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid. Adab ini memang umum dilakukan, namun terasa jauh lebih istimewa karena di dalam masjid inilah letak makam Rasulullah di Masjid Nabawi yang begitu dimuliakan umat Islam.
Setelah masuk, disunnahkan melaksanakan shalat tahiyyatul masjid dua rakaat. Banyak jamaah memilih melaksanakannya di area dekat mimbar Nabi.
Selanjutnya, arahkan langkah ke Raudhah, lalu perbanyak dzikir, istighfar, dan doa di sana sebelum mendekati area makam.
Baca Juga: Wajib Tahu! Inilah Tempat Mustajab Doa di Kaabah Terbaik
3. Menghadap Makam Nabi SAW

Saat berada di sekitar makam Rasulullah SAW, jagalah perilaku dengan tetap tenang dan khusyuk. Tundukkan pandangan, lalu berdirilah di depan dinding pembatas (mawajahah) dengan jarak yang wajar.
Sebagian ulama menganjurkan berdiri dengan sikap tenang tanpa gerakan berlebihan, mengingat tempat ini bukan lokasi untuk ritual seperti shalat, melainkan tempat penghormatan.
Ucapkan salam dengan suara lembut, misalnya:
“Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh.”
Kemudian lanjutkan salam kepada Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA yang dimakamkan di sampingnya.
Tidak perlu berlama-lama, apalagi sampai mengganggu jamaah lain yang tengah menunggu giliran. Berbeda dengan ziarah kubur pada umumnya, ziarah ke makam Rasulullah SAW sebaiknya dilakukan secara singkat tanpa mengganggu jamaah lain.
4. Memperbanyak Doa dan Shalawat

Setelah mengucapkan salam, perbanyaklah shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, misalnya dengan membaca “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad.” Panjatkan pula doa-doa kebaikan untuk diri sendiri, keluarga, dan umat Islam. Apabila ada titipan salam dari kerabat, dapat disampaikan pada momen ini.
Yang perlu diingat, meskipun makam Rasulullah di Masjid Nabawi merupakan tempat yang sangat mulia, doa tetap ditujukan hanya kepada Allah SWT, bukan kepada Nabi secara langsung.
Hindari pula praktik berlebihan seperti mencium dinding, menangis histeris, atau meminta hajat kepada beliau.
Setelah itu, dianjurkan kembali berdoa di Raudhah, bersedekah selama berada di Madinah, lalu keluar masjid dengan kaki kiri sambil membaca doa keluar masjid.
5. Setelah Ziarah

Sebagian ulama menyarankan agar rangkaian ziarah ditutup dengan shalat sunnah dua rakaat sebelum bertolak meninggalkan Madinah.
Doakan agar ziarah yang telah dilakukan diterima Allah SWT dan menjadi sebab turunnya syafaat Rasulullah kelak di akhirat.
Seluruh rangkaian adab ini bertujuan untuk menjaga kekhusyukan, meningkatkan keimanan, sekaligus meneladani para sahabat, seperti Ibnu Umar RA yang dikenal berziarah dengan singkat namun penuh adab.
Memahami sejarah dan lokasi makam Rasulullah di Masjid Nabawi dapat menjadi bekal bagi setiap muslim untuk menjaga adab, niat, dan perilaku selama berziarah, sehingga ibadah tersebut tidak hanya meninggalkan kesan mendalam, tetapi juga mendatangkan pahala.
Baca Juga: Masjid Nabawi Adalah Masjid Kedua dalam Islam. Ini Faktanya
Mendekatkan Diri Lewat Al-Qur’an
Sambil menanti kesempatan berziarah langsung ke makam Rasulullah di Masjid Nabawi, kita dapat mulai mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya sejak sekarang, salah satunya melalui kebiasaan membaca Al-Qur’an secara rutin.
Untuk menemani ibadah harian, Al-Qur’an Safwan Quran dapat menjadi pilihan yang tepat.
Al-Qur’an ini dilengkapi dengan tajwid berwarna, terjemah per kata sesuai standar Kemenag RI, transliterasi Latin, panduan makharijul huruf, Asbabun Nuzul, Asmaul Husna, serta hadis-hadis pilihan.
Dengan desain full color yang nyaman dibaca dan kualitas cetakan yang baik, Safwan Quran cocok digunakan oleh siapa saja, mulai dari anak-anak yang baru belajar mengaji hingga orang dewasa yang ingin memperdalam pemahaman.
Mari, jadikan alquran terbaik dari Safwan quran sebagai teman setiap dalam perjalanan ibadah harian!


